Sunday, June 21, 2009

tangan ini



by islah_adi@yahoo.com


Entah berapa banyak hal-hal perbuatan yang pernah aku lakukan dengan kedua tanganku ini, baik itu perbuatan yang sengaja aku lakukan entah baik maupun buruk yang pernah aku buat selama ini.

Mungkin kali ini aku ingin sekali mencurahkan segala pemikiranku berkaitan dengan tangan ini, khususnya kedua tangan ini.

Tanpa tangan mungkin hidup kita akan terasa hampa. Baik, apa itu tangan sebenarnya. Tangan merupakan karunia Allah SWT yang diberikan kepada hambanya untuk melakukan segala aktivitas ibadah, digunakan hanya untuk perbuatan yang baik-baik saja, dan jangan lupa dengan tangan pula kita dapat beraktivitas mengambil sesuatu, membawa, bahkan memberikanpun juga dapat dikerjakan oleh kedua tangan kita.

Berbagai karunia yang diberikan Allah adalah kedua tangan ini. Tangan mempunyai banyak struktur susunan, antara tangan kanan dan kiri banyak perbedaannya walaupun banyak juga yang hampir mirip dalam hal bentuknya. Perbedaan yang mencolok adalah dari besarnya tangan, hampir rata-rata orang yang menggunakan tangan kanan untuk segala aktivitasnya, tangan kanannya tentu lebih besar ukurannya, tentu berbeda dengan orang kidal yang memakai tangan kirinya untuk segala aktifitasnya, lebih besar tangan kirinya dari pada tangan kanannya. Menurut sumber dari Wikipedia bahwa tangan itu; Tangan adalah bagian tubuh di ujung suatu lengan. Sebagian besar manusia memiliki dua tangan, biasanya dengan empat jari dan satu ibu jari. Bagian dalam tangan adalah telapak tangan. Jika jari-jari ditekuk erat, tangan akan membentuk suatu kepalan. Selain manusia, banyak jenis hewan lain yang memiliki tangan, terutama dari kelompok primata. Tentu hal yang seharusnya patut kita syukuri untuk semua karunia ini. Akantetapi banyak juga hasil-hasil tangan manusia pula kehancuran dunia ini tercipta, banyak hal-hal yang menyalahi kodrat manusia sebagai kalifah di dunia dikarenakan salah fungsi tangan kita.

semoga saja apa yang kita lakukan didunia ini menjadikan baik diakhirat kelak, karena kita diminta pertanggung jawaban atas diberikannya nikmat "tanagn ini".

Saturday, June 20, 2009

ANTARA ABU-ABU DAN COKLAT



by islah_adi@yahoo.com

Pagi itu aku memulai hari dengan perasaan yang berbeda dari yang kemarin-kemarin aku rasakan, karena ada sesuatu yang tampak berbeda didiriku ini, sekarang aku sudah menginjak usia remaja, dan ini lah masa-masa yang indah selama manusia itu hidup, ya masa remaja yang tidak bisa kita lupakan oleh segala aktifitas tua kita, karena masa indah ada dimasa remaja ini.

Aku mulai terpesona akan suatu bangunan yang menurutku bangunan ini akan mengantarkanku kepada kesuksesanku dimasa mendatang kelak.

Kumulai berjalan mendekat sampai kepada pintu gerbang aku dengan perasaan grogi campur menjadi satu dengan ketertakjubkan akan banguan tua ini. Aku melangkah maju sampai kepada pintu gerbang, mulai kubuka mata hatiku untuk menerima segala apa yang besok diberikan kepadaku. Kukatakan dalam hatiku, inilah sumber segala dari ilmu yang aku cari dalam masa remaja yang takkan mungkin aku meninggalkannya dan tidak pula aku menyia-yiakannya, hanya untuk bermain-main saja. Dengan perasaan binggung serta senang kumulai memasuki ruangan demi ruangan yang terdapat banyak ilmu disana, serta banyak sekali wajah-wajah yang kesemuanya belum pernah aku lihat sebelumnya.

Dengan seragam abu-abu aku mulai memasuki ruangan yang hampir terdiri dari 40 orang yang sudah duduk rapi, serta bangga diriku ini dikarenakan pada waktu kecil dahulu sering aku melihat difilm-film terutama buatan Indonesia akan asyiknya sekolah di SMA.

Alhamdulillah aku diterima di SMA terbaik di kabupaten Rembang, aku sekolah di SMA Negeri I Rembang masuk di rangking ke-180 dari 243 pelajar yang diterima, juara ke-60 dari bawah, padahal disekolahku SMP dulu, aku termasuk 24 besar rangking paralel.

Bangga banget dapat sekolah disana, ya itupun dengan otak pas-pasan biasa anak desa sekolah di kota, dengan teman-teman baru yang belum aku kenal dari daerah mana saja mereka berasal karena begitu luasnya kota Rembang ada yang dari pesisir pantai, perkotaan rembang sendir, serta sampai pelosok hutanpun ada disana, itu aku. Dan juga aku harus kos dideket sekolah dengan jarak 800 meter. Pertama kali jauh dari orang tua,aku merasa ada sesuatu yang lain yang membuatku kehilanggan sesuatu yang selalu aku banyak-banyak bermanja-manja minta ini itu ke orang tua, namun sekarang harus hidup jauh dari orang tua, namun aku tidak kos sendirian, banyak pula temanku yang kita sebut dengan sebutan AC MIJAN, karena yang punya kos yaitu bernama Mbah Mijan, dan itupun hari sabtu kami satu kos semua kompak buat pulang mudik, istilahnya perbaikan gizi.

“Nama saya Rufadi Islah dari Sedan, silahkan teman-teman memanggil saya dengan Rufadi, “perkenalan didepan kelas.
“Rufadi mengapa kamu sekolah disini, alasannya apa?,” tanya Wali kelas.
“Ya, banyak Bu, “ gugup.
“Ya, sebutin satu saja?,” pinta Wali kelasku.
“He he,” sambil menggaruk kepala.
“Cari pacar Bu,” sindir teman baruku.
“Ngak Bu, cuma pengen belajar saja,” sanggahku.
“Kalau begitu jangan sampai kamu nakal ya disini, ingat disini tempatnya belajar bukan bermain, kan kalian sudah tidak TK (Taman Kanak-kanak) lagi,” nasehat Wali kelas kepadaku dan murit-murit kelas 1. 3 semua.
“Beres BU, eh iya Bu,” jawabku bercanda.
“Nanti kalau sampai kalian ketahuan melanggar aturan-aturan yang ada di SMA ini, maka saya tidak segan memberikan sangsi yang berat, setuju!,” tambah Wali kelas sambil mengangguk-anguk.
“Ya Bu,” kami serentak.
“Sekarang kalian telah menjadi murit SMA NEGERI I REMBANG, kalian harus bangga dan harus menjaga nama baik sekolah ini, ingat satu hal, jangan sampai kalian menjadi anak yang nakal, harus jujur dan tak lupa jangan sekali-kali kalian berani sama Ibu atau Bapak Guru,” nasehat Wali kelas.
“Ada yang mau ditanyakan berkenaan dengan SMA ini, sebelum kalian mengikuti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar)”,
“Kegiatan apa saja yang ada di SMA ini, Bu,” tanya salah satu sisiwa.
“Banyak sekali, sebagai contoh sekarang ini kalian masih mengikuti MOS (Masa Orientasi Siswa) atau lebih dikenal dengan sebutan pengenalan sekolah. Masih banyak kegiatan-kegiatan seperti ekstrakulikuler, misalkan basket, pramuka yang sekarang wajib kalian ikuti selama masih kelas satu, dan di SMA ini juga ada kursus Bhs. Inggris dengan fasilitas lengkap yang belum dipunyai sekolah lain, serta kursus komputer juga ada, silahkan kalian jangan sampai menyia-yiakannya,”penjelasan dari Wali kelas.
“Seumpama kita tidak ikut, Bu?” tanya salah satu temanku yang kayaknya malas kegiatan.
“Kalau untuk kursus kalian tidak diwajibkan dengan memilih salah satu kursus Bhs. Inggris atau kursus komputer, tetapi untuk kegiatan ke-pramukaan kalian diwajibkan!” jelas Wali kelas.
“Gitu ya Bu,”
“Oh iya saya lupa setelah MOS 3 hari ini kalian diwajibkan untuk mengikuti kegiatan pramuka selama 2 hari, menginap di SMA” wali kelas berujar.
“Harus bawa pakaian pramuka ya Bu,” salah satu siswa bertanya.
“Ya harus, masak kalian mengikuti acara pramuka harus pakai pakaian masak, ya dengan pakaian pramuka lengkap semua!” jelas Wali kelas.
“Ha ha …..,” tawa seisi kelas.
..........0...............


Setelah kita mengadakan MOS selama 3 hari dalam pengenalan semua keadaan sekolah baik itu semua guru pengajar, karyawan, sampai ke-Kepala Sekolah, dan semua fasilitas yang dimiliki oleh SMA ini, dan tidak adanya acara perpeloncoan dari kakak tingkat karena di SMA ini sudah menghilangkan acara ini, yang ada cuma disuruh untuk mencari tanda tangan semua Guru-guru tanpa dimintai syarat-syarat macam-macam. Setelah itu, kita diwajibkan untuk mengikuti acara Pramuka dengan kakak tingkat sebagai pemandu kami, didampingi oleh Guru dan Kepala sekolah sebagai pembina dan pengawas kegiatan pramuka.

Dua hari merupakan hari yang melelahkan bagi kami karena disini udara panas dengan pepohonan yang sedikit, tentunya capek sekali, padahal banyak sekali kegiatan yang musti kami kerjakan, pertama kali kegiatan pramuka dimulai siang hari dengan pembukaan secara langsung dipimpin oleh Kepala sekolah, dan sore hari dilanjutkan dengan pemberian bekal ke-pramuka-an, secara teori dikelas. Setelah itu baru malam hari kita disuruh berkelompok dibagi oleh kakak tingkat berdasarkan kelas masing-masing dikelasku dibagi menjadi empat kelompok, laki-laki dengan laki-laki, serta perempuan dengan perempuan.

Pada waktu malam, merupakan waktu yang istimewa karena kita hanya disuruh untuk saling berkenalan satu sama lain, dan masing-masing kelompok harus menampilkan karyanya, baik itu menyanyi, sandiwara, drama ataupun berkomedi. Pada waktu giliran kami, kita menampilkan acara bernyanyi dan juga menampilkan sebuah drama. Dalam acara ini, kita disuruh melingkari api unggun yang besar sehingga kami dapat menikmati malam yang tak terasa dingin karena kehanggatan persahabatan dan nyala api unggun, yang terus berkobar seiringnya kegiatan api unggun ini.

Acara sebenarnya baru dimulai setelah malam larut, kita tidak langsung disuruh tidur melainkan harus mencari jejak untuk mencari ambalan yang disembunyikan oleh kakak tingkat dalam kuburan yang tentu saja menyeramkan karena jauh dari lingkungan penduduk, tentu saja kita sudah diberi bekal olek kakak tingkat dalam pencarian ambalan tersebut, ketentuan-ketentuan dan sangsi-sangsi kalau kita melanggar.

Dan kita disuruh mencari ambalan pada malam itu juga menyisir disekitar sekolah dan sampai kekomplek kuburan warga yang ternyata "ambalan pramuka kita" disembunyikan di komplek kuburan tersebut, dan yang menjadi sukarelawannya yaitu Muh. Imron, karena hanya satu grup yangharus mewakilinya. Setelah kita mendapatkan lambang ambalan kita disuruh memasang, menjahitnya sendiri dalam tenda, yang keesokan harinya ada kegiatan yang masih banyak lagi.

Saya beserta teman satu tim diberi nama regu, gathak warak entah artinya apa kami juga tidak tahu, tapi yang jelas kami harus bangga dengan nama regu tersebut, tentunya diketawai oleh semua kakak tingkat.

“Kami dari regu gathak warak melapor,” teriak peimpin kami.
“Saya terima,” sahut kakak tingkat menahan tawa.
“Kami siap menjalankan segala tugas yang diberikan, laporan selesai,”
“Baik laporan kalian saya terima, sekarang kalian tahu ini pos berapa dan nama pos ini apa?”,
“Ini pos dua namanya pos pemantapan organisasi, Kak!,”
“Baiklah, benar ini pos dua dan namanya pos pemantapan organisasi, sekarang nama regu kalian apa”,
“Kami dari regu gathak warak........!!!, “serempak kami menjawabnya, karena itu sudah menjadi peraturan untuk mengatakan secara serempak satu tim.
“Apakah kalian tahu apa itu gathak wara?”,
“Tidak Kak!!,” sahut ketua regu kami keras.
“Lho mengapa kalian tidak tahu, padahal penting sekali untuk kalian mengetahuinya, he he ya cari tahu saja ya apa itu arti dari apa tadi”,
“Gathak warak............!!!!,” teriak kami satu tim, sampai-sampai serak suara, yang kita hanya diberi air satu teko saja untuk kegiatan dari pagi hari samapi sore harinya dibagi sama satu tim.
“Sekarang saya tanya siapa ketua regu kalian ada struktur organisasi, serta apa peranan masing-masing dari kalian”, tanya Kakak tingkat tersebut.
“Saya sebagai ketua regu mempunyai tugas bertanggung jawab mengatur penuh kelompok kami, sebelah kiri saya yaitu sebagai wakil saya yaitu sebagai tangan kanan saya atau mewakili saya, dan sebelahnya lagi bendahara bertanggung jawab atas semua keuangan kami dan disusul sekretaris sebagai pengatur segala administrasi bagi kelompok kami, dan yang lainnya sebagi anggota menjalankan tugas untuk menerima segala arahan dari ketua, wakil maupun bendahara dan sekretaris,” jawab ketua kelompok kami.
“Baiklah, sekarang kalian sudah mengerti dan paham atas semua pertanyaan dari saya, dan yang harus kalian selalu ingat suatu perkumpulan sebaiknya harus ada pemimpinnya untuk mengatur segala urusan, sehingga didalam perkumpulan itu tercipta suasana yang teratur, “ nasehat dari Kakak tingkat.
“Saya tidak akan menanyakan lagi apa arti dari organisasi serta kedudukan didalam keanggotaanya lagi, ternyata kalian lumayan paham dan mengetahuinya”,
“Sekarang siapkan, dan lanjutkan lagi ke pos ketiga pos fisik,”
“Lapor.........!, tugas sudah kami laksanakan laporan selesai,”
“Bubarkan,....!!,”.

Semua pos sudah kami jalankan dari pos satu “keagamaan” dilanjutkan pos kedua pos “pemantapan organisasi”, pos ketiga pos “fisik”, pos keempat “nilai-nilai moral”, dan pos terakhir “pemantapan mental" agar kami selalu menjalankan tugas dengan keikhlasan tanpa mengeluh”.

Alhamdulillah kegiatan ini semoga bermanfaat disamping kita digembleng olek Kakak tingkat kita untuk mendapatkan ilmu, bagaimana untuk mandiri berbagi dengan teman (bersosialisasi) maupun belajar tentang mengenali alam sekitar.

Ini merupakan pengalaman berharga yang takkan terlupakan bagi kami, banyak keluh kesah kami, berbagi sedih, dimarahi sama-sama, mendapatkan hukuman, saling membantu meringankan hukuman teman satu tim, serta bagi kelompok yang lain kita sering berbagi materi apa yang telah mereka dapatkan, serta aku mempunyai banyak teman dari kegiatan ini, dan juga kita saling tolong-menolong kepada semua peserta, serta kerja sama yang erat sekali terlebih dengan anggota kelompok kita sendiri, terjalin suatu keeratan hati untuk saling berbagi satu dengan yang lainnya.

Setelah semua kegiatan selesai, MOS selama tiga hari dan Pramuka selama dua hari, kita masih mempunyai waktu satu hari lagi untuk kita masuk kelas menanti jadwal pelajaran untuk hari senin yang akan datang.

AKAL

kutipan dari berbagai sumber oleh islah_adi@yahoo.com


Al-harits bin asad al-muhasiby, seorang sufi besar, sekaligus pakar hokum dan hadits serta sastrawan yang wafat di bagdad pada tahun 857M berkata bahwa:
“Akal adalah insting yang diciptakan Allah Swt pada kebanyakan makhluk-Nya, yang (hakikatnya) oleh hamba-hamba-Nya – baik melalui (pengajaran) sebagian untuk sebagian yang lain, tidak juga mereka secara berdiri sendiri – (mereka semua) tidak dapat menjangkaunya dengan pandangan, indera, rasa, atau cicipan. Allah yang mmperkenalkan (insting itu) melalui akal itu (dirinya sendiri).”

Lebih lanjut al-Muhaiby berkata, ‘Demikian akal itulah hamba-hamba allah SWT mengenal-Nya. Mereka menyaksikan wujud-Nya dengan akal itu, yang mereka kenal dengan akal mereka juga. Dan dengannya mereka mengetahui apa yang bermanfaat bagi mereka dan dengannya pula mereka mengetahui dan dapat membedakan apa yang bermanfaat dan apa yang berbahaya baginya dalam urusan kehidupan dunianya, maka dia telah mengetahui bahwa Allah SWT telah menganugerahinya dengan akal yang dicabutnya dari orang gila atau yang tersesat dan juga dari sekian banyak orang picik yang hanya sedikit memiliki akal.”

Ada lagi yang berpendapat bahwa akal terdiri dari dua macam. Akal yang merupakan anugerah Allah SWT dan akal yang dapat diperoleh dan dikembangkan oleh manusia melalui penalaran, pendidikan, dan pengalaman hidup.

Al-Ghazali, sufi yang filosof itu, mengingatkan bahwa kata “akal” mempunyai banyak pengertian. Ia dapat berarti potensi yang membedakan manusia dari binatang dan yang menjadikan manusia mampu menerima berbagai pengetahuan teoritis. Makna ini tidak jauh berdeda dengan pendapat al-Muhasiby di atas. Akal juga bearti pengetahuan yang dicerna oleh seorang anak yang telah mendekati usia dewasa, di mana –misalnya- ia dapat mengetahui bahwa sesuatu tidak nungkin ada pada sesuatu yang pada saat yang sama ia tidak ada juga di tempat itu, atau dua itu lebih banyak dari satu. Makna ketiga dari akal, menurut al-Ghazali, adalah pengetahuan yang diperoleh seseorang berdasar pengalaman yang dilaluinya dan yang pada gilirannya memperhalus budinya. Menurut kebiasaan, orang yang demikian ini dimanai “orang berakal”, sedang orang yang kasarbudinya dinamai “tidak berakal”. Makna keempat dari akal adalah kekuatan insting yang menjadikan seseorang mengetahui dampak semua persoalan yang dihadapinya, lalu mampu menekan hawa nafsunya serta mengatasinya agar tidak terlarut olehnya.

Dimusababkan oleh cinta
Langit membentang selintas jalan tak kasatmata
Burung-burung melayang menapaki jalan, juga
mentari dan rembulan
Malam pekat, bintang-bintang pun turut menyusuri

Dimusababkan oleh cinta
Arus sungai menderu sepanjang malam

Dimusababkan oleh cinta
Sepanjang malam sungai mengalir ke dalam
tidurku,
Sepuluh ribu makhluk hidup terlelap di
genggaman tanganku,
Terlelap sembari sadar, dan mengalir saat
istirahat.
Kathleen Raine

KUMPULAN KATA-KATA BIJAK



sebagai hasil resume islah_adi@yahoo.com dari berbagai sumber buku

Luqman Hakim berpesan, “jangan samapi ayam jantan lebih cerdas darimu. Ia berkokok sebelum fajar, sementara kamu masih mendengkur tidur hingga matahari terbit.”

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Lihatlah orang yang lebih menderita yang berada di bawahmu, dan janganlah melihat orang yang ada di atasmu, karena demikian itu lebih tepat, supaya orang tidak meremehkan nikmat karunia Allah SWT kepadamu.” (HR. Bukhari-Muslim).

Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Dunia adalah penjara bagi orang-orang mukmin dan sebagai surga bagi orang-orang kafir.” (HR. Muslim).

”GULA dan BUNGA”
Si gula tidak perlu menyuruh semut-semut mendatanganinya. Atau, si bunga tidak harus memaksa si kumbang menghisap madunya. Si gula cukup membuat dirinya manis, sehingga dengan senang hati para semut mendatanginya. Dan, si bunga cukup membuat dirinya menjadi wangi agar para kumbang ”meminangnya”.

“Seandainya saja kita bisa hidup berdampingan dengan semua manusia, melupakan segala perbedaan kita tentu hidup ini seindah surga, tanpa ada rasa permusuhan yang malah akan membuat kita tercerai berai, membuat kita sebagai manusia yang tidak berbudaya”.

“Kugenggam erat pasir putih ini, dan tak ingin kulepaskan, namun waktu jualah yang ternyata pasir putih itu terlepas dari genggamanku”.

”Sungguh mengherankan: bila Anda mengenal Allah SWT tetapi tidak mencintai-Nya; bila mendengar ajakan kebaikan lalu tidak bersegera memperkenankanya, bila telah mengetahui kadar keberuntungan nerniaga dengan Allah SWT lalu berjual beli dengan selain-Nya, bila mengetahui betapa besar siksa-Nya lalu mengundang murka-Nya”.

”Sungguh aneh jika Anda telah merasakan keterasingan akibat kedurhakaan, lalu tidak merindukan kebahagiaan dengan manaati-Nya , dan yang lebih aneh adalah bila Anda percaya bahwa Dia yang paling Anda butuhkan lagi tak dapat hidup tanpa bntuan-Nya, lalu Anda perpaling dari-Nya dan menghadap kepada yang menjauhkan Anda dari rahmat-Nya”.

Aku tercengang melihat tiga orang. Pertama, yang pamrih terhadap makhluk sesamanya dan melupakan Tuhan yang selalu bersamnya. Kedua, yang kikir menyedekahkan hartanya, padahal Tuhan yang menganugerahi, meminta diutangi lalu ia menolak permintaan-Nya. Ketiga, seseorang yang sangat mendambakan pertemanan makhluk dan cinta mereka, padahal Alah SWT mengajaknya berteman dan saling mencintai” (Yahya bin Mu’adz).

Tiga hal menjadikan aku tertawa dan tiga hal pula yang menjdikanku menagis. Yang menjadikanku tertawa adalah dia yang mnegejar dunia padahal kematian mengejarnya, yang lengah tapi dia selalu diawasi, sertayang tertawa terbahak-bahak padahal dia tidak mengetahui apakah Tuhan rela kepadanya atau murka. Sedang tiga yang menjadikanku menangis adalah ngerinya kiamat, kurangnya pengabdian, serta perhitungan Tuhan, apakah aku diantar ke surga atau dijerumuskan ke neraka (Abu ad-Darda’).

Empat hal mematikan kalbu. Dosa ke dosa, obrolan yang banyak, berdiskusi dengan pecundang, dan bersahabat dengan yang mati (hatinya).

Hati-hatilah! Jangan menginjak leher siapa yang sedang trjatuh, jangan merenggutkan wajah di hadapan siapa yang butuh. Jangan juga menutu telinga ketika mendengar rintihan si miskin. Jika Anda melakukan itu, maka gugurlah keanggotaan Anda dalam ”khazanah cinta dan kemanusiaan”. Untuk Anda ketahui, khasanah ini memiliki banyak cababng dan berda di semua tempat, hanya saja anggotanya bukanlah pendengki atau yang mementingkan diri, bukan pula yang tidak memiliki hati.

Pengetahuan yang paling berharga adalah pengetahuan manusia tentang dirinya, dan sikap ang paling agung adalah keberadaan seseorang sesuai pengetahuannya, sedang kehormatan yang terbaik adalah memelihara air muka.

Sufi bear Ibrahim Ibn Adham, melihat seseorang larut dalam kesedihan, maka dia berkata kepadanya: ”akan kutannyai engkau tiga pertannyaan, jawablah dengan jujur. Yang pertama: Adakah yang terjadi di alam raya ini tanpa kehendak Tuahn?” orang itu menjawab: ”Tak ada!” Semua atas kehendak-Nya.” ”Yang kedua,” tanya Ibrahim, ”Apakah rezekimu berkurangdari apa yang telah ditetapkan Allah bagimu?” ”Tidak! Apa yang telah ditetapkan-Nya tidak akan meleset.” ”Yang ketiga: Apakah berkurang ajalmu sesaat dari apa yang ditetapkan-Nya?” ”Tidak! Apabila ajal datang, maka ia tidak dapat dimajukan, tidak juga diundur.” Jawab yang bersedih, ”kalau demikian, mengapa engkau larut dalam kesedihan? Bangkitlah!” kata Ibrahim Ibn Adham.

Seorang sufi bertanya: ”Bagaimana keadaanmu?” Yang ditanya menjawab: ”al-hamdulillah, jika aku memperolehrezeki aku makan, dan jika tidak, aku bersabar.” Sang sufi menjawab: ”Begitulah anjing didaerah kami. Tetapi manusianya jika memperoleh rezeki dia berikan kepada yang butuh dan bila tidak memperolehnya dia bersyukur.”

Satu ketika Umar Ibn Abdul Aziz ra. sedang dalam perjalanan bersama Sulaiman Ibn Abdul Malik. Ketika itu guntur dan kilat menertai hujan, sehingga mengetarkan hati mereka. Tapi Umar ra. tersenyum dan berkata ”Ini rahmat Allah SWT yang diturunkan-Nya, tetapi itu disertai dengan saituasi yang menakutkan kita. Bayangkanlah rasa takut yang mencekam kalbu kita, jika yang diturunkan-Nya itu adalah murka-Nya.”

Seorang sufi berdoa ketika sedang thawaf di Ka’bah dengan berucap: ”Ya Allah, kami menaati-Mu dalam hal yang Engkau paling sukai, yakni mengakui bahwa engkau paling benci, yakni mempersekutukan-Mu, maka ya Allah ampunilah apa yang kami lakukan antara keduanya.”

Jika Anda menghendaki kekayaan, maka raihlah ia dengan kepuasan setelah usaha halal yang maksimal, karena kepuasan adalah harta yang tak habis-habisnya. Hindarilah ketamakan, karena itulah kemiskinan yang tiada taranya. Lalu jangan berputus asa, karena Tuhn yang menganugerahi orang lain, Dia juga yang mampu menganugerahi Anda” (Sa’id Ibn Abi Waqqash).

Sufi besar al-Hasan al-Basri (w. 728) ditanyai tentang rahasia ketidakcenderungannya kepada nikmat duniawi. Beliau menjawab: ”Kuketahui bahwa rezekiku tidak mungkin diambil oleh orang lain, karena itu hatiku tenang. Kuketahui juga bahwa tugasku tidak dapat dikerjakan orang lain, maka aku tekun melaksanakannya. Kuketahui juga bahwa Allah SWT mengetahui keadaanku, maka aku malu ditemui-Nya dalam kedurhakaan, dan kuketahiu bahwa maut menemaniku, karena itu aku menyiapkan bekal menghadap Allah.”

Kepada sang waktu ku berucap!?

by islah_adi@yahoo.com

Seolah-olah waktu yang kupegang sekarang ini terasa sangat cepatnya seakan-akan diriku terasa menyia-nyiakan waktu yang tersisa.
Waktu selamanya akan terus maju kedepan dan tak akan berputar kembali, pikirku dalam hati.
Seandainya waktu yang kupergunakan sekarang ini dapat kuhentikan dan dapatku putar lagi, aku akan ………….., lamunku.
Waktu tak selamanya hilang, waktu hanya bisa kita rasakan, entah kita memanfaatkan ataupun kita sia-siakan.

WAKTU
Waktu bagai setitik embun yang hadir pagi hari

Ketika terasa segar untuk kita bangun, dan
Terasa hampa ketika kita terlelap
Dapatkah kuraba, kupegang, dan bertemu
Bertanya kepada sang waktu
Hakikat sang waktu, ada.
Waktu bagai angin yang membelai seluruh wajahku
Terasa menyegarkan ketika kita merasa, dan
Terasa berlalu ketika kita tidak menghiraukan.
Diriku adalah teman sang waktu yang mengalir bagai aliran air
Mengalir, menjauh, dan tak terulang kembali

Kuberjalan selama aku mampu berjalan hingga sulitku hitung sudah berapa langkahkah aku berjalan diatas bumi yang kupijak sekarang tentang kesadaranku apa arti hidup ini apa, “entah…!” itu jawaban yang selama ini aku temukan ketika semua orang bertanya kepadaku, selama ini!. Pikirku.
Kulewati hari-hariku bersama sang waktu tapi entah aku tidak perduli ataukah aku ini sombong, diriku tidak ataupun belum mampu menjawab pertannyaan sesederhana itu, siapa waktu sebenarnya.
Apakah dan siapakah sang waktu itu? Mengapa ada sang waktu? Bergunakah waktu itu untuk kehidupan manusia?, ku merenung memikirkan semua ini, belumku temukan jawaban tersebut, Cuma do’aku untuk diberi jawaban yang kupanjatkan kepada Sang Khalik, penguasa ilmu di alam semesta ini berada.
Kepada sang waktu sungguh kuterlena, takku temukan, kujumpai sebarang maujudmu.
Kata orang-orang yang pernah kutemui semua berpendapat berbeda tidak ada bentuk pasti:
waktu adalah uang,
waktu adalah kesempatan,
waktu adalah kesehatan,
waktu adalah usaha,
waktu adalah segalanya,
waktu adalah ………, dan
waktu adalah…………….

Begitu kata orang berujar tentang waktu, sekarang atau masa depan waktu terus berjalan, mengalir bagai air yang terus mengalir sampai ke muara, nun jauh!
Seandainya sang waktu berhenti barang sejenak apakah yang akan terjadi selanjutnya,…. Pikirku.
Waktu seperti ritme yang terus-dan terus, seperti roda selalu berputar, seperti gelombang tanpa henti, seperti bumi berputar pada porosnya,
Kupikirkan ketika waktu berhenti, apakah ada gelombang, ada roda, ada bumi, ada apakah kita bisa mampu berdiri di sini (Bumi, Red)

 

SAHABAT

by
RUFADI ISLAH


Sahabat merupakan tempat untuk menguatkan hati. Disaat susah maupun senangpun kita membutuhkan yang namanya sahabat. Didunia ini memang kita dilahirkan dari rahim ibu dengan mempunyai sifat-sifat yang berbeda-beda walaupun lahir kembar identikpun mempunyai perasaan atau isi hati yang berbeda pula. Sahabat merupakan tempat bersandar yang takkan goyah walaupun tertiup angin yang kencang sekalipun tetap masih tegak berdiri. Seandainya manusia diciptakan dengan tanpa membutuhkan satu sama lain pasti dunia ini takkan ada rasa saling kasih mengasihi yang ada hanya kefanaan.

Sering kita melihat banyak orang-orang yang lebih mempercayai seorang sahabat dari pada keluarga sendiri, orang tua sekalipun.
Sahabatku, janganlah dirimu berjanji kepadaku. Jangan pula bersumpah bahwa tidak ada yang bisa memisahkan persahabatan kita. Tetapi, ketika kecemburuan telah merayapi kita, ataupun ketika kedengkian kita yang menyeruak masuk dalam hati kita, dan atau ketika ada perselisihan terjadi diantara kita, jangan berikan ruang semua yang akan mencabik-cabik hubungan kita.

Sekarang jangan katakan padaku bahwa ketulusanmu lebih dalam dari samudera. Jangan pula berjanji engkau akan menyayangiku sepanjang hayatmu. Sebab, bisa jadi dikemudian hari keraguan akan menyelusup masuk ke dalam hatimu. Waspadalah! Jika kita berbeda dalam berpendapat tentang sesuatu hal, jangan engkau rendahkan pendapatku. Terimalah aku dengan kelapangan hatimu.

Sahabatku janganlah kau ucapkan kata-kata yang bergema, yang cepat menguap seiring dengan pergantian hari. Akan lebih baiknya bila engkau melindungiku dengan kepercayaanmu, dari pada berkali-kali kau perdengarkan ketelingaku kata-kata manismu. Percalah, jika kudapati dalam sikapmu kelembutan, kepercayaan, dan cinta, niscaya aku akan menjadi sahabat abadimu.
..........................0.......................

Seseorang menyimpan kata-kata yang lembut penuh arti dan baik, juga perasaan cinta, kasih sayang dan penghargaan didalam kotak hati yang terkunci rapat. Jika sahabat karib meninggal dunia, kata-kata tersebut dan perasaan ini mengucur deras pada si-mayit dari segala sisi. Bukankah lebih baik kalau ia mendenganr kata-kata itu sebelum dikebumikan?! Bukankah lebih baiknya lagi mengirimkan karangan bunga semasa hidupnya dari pada ditinggalakan begitu saja diatas pusaranya?!

Sahabat apakah aku salah mengucapkan terima kasih ketika kamu pergi meninggalakanku? Setelah kain kafan yang menutupi seluruh tubuhmu, apakah sudah terlambat untuk aku katakan terima kasih dan rasa cintaku pada kalian?. Jika engkau saksikan air mata berlinang dipipi sahabatmu ini, simpati atas tangisan, dan penderitaan yang kutanggung sendiri. Apakah aku berani menghadapi bahaya tanpa senjata, melainkan dengan hati yang dibalur dengan kepercayaan diri tanpamu?. Dan apakah aku mampu untuk menghadapi dunia ini sendirian?.

Sekarang kamu telah pergi jauh dan takkan kembali hanya kematiankulah kita bisa bertemu lagi, banyak kisah-kisah kita yang sedih, senang, bahagia dan duka bersama. Ingin aku apakan memori ketika bersamamu, ingin kulupakan namun banyak kisah yang tak bisa kulupakan, ingin kupaksa namun bayangmu seakan terus hadir dalam setiap lamunanku.

Merenungkanmu kini, menggugah hari-hariku yang telah sepi, berbagai kenangan berganti masa yang telah berlalu. Melukiskanmu lagi didalam benakku berlahan terbayang pasti akan garis wajahmu, yang dulu pernahku lihat.

Ada banyak hal yang ingin aku lakukan sekarang walau tanpamu, namun terasa hampa hati ini, kalau tidak ada dirimu yang hadir walaupun itu hanya sekedar ejekan ataupun makian karena kegagalanku, namun itu merupakan dorongan semangat bagi diriku untuk menjadi insan yang baik.

Hanya bunga ini saja yang aku bisa berikan kepadamu di atas pusaramu dan sepotong do’a kusisipkan dalam ibadahku kepada Allah SWT. Apakah pantas, apakah kamu tahu, dan apakah kamu telah menerima semua yang aku berikan.
Tunggulah dalam sisa waktuku didunia ini, insyaallah kita bertemu didalam surga.

KOTAKU

by Rufadi Islah



Pasir putih menghiasi pemandangan di kota tercinta ini, dengan banyaknya pohon-pohon kelapa dan aren yang menjulang sampai ke angkasa, birunya langit ditemani sang awan yang menghias bagaikan lukisan tiada taranya, dan angin pantai yang tentu panas namun tak terasa dikulit karena kencangnya hembusan angin dipinggir laut ini, seakan-akan ingin menunjukkan kepada dunia bahwa di kota ini ada sesuatu pesona yang patut kita syukuri sebagai karunia Allah SWT yang Maha Agung.

Inilah kota kabupaten dimana aku dibesarkan, dengan suasana yang membuat kita lebih menghargai pemberian suatu karunia Tuhan, karena sedikit sekali hujan yang akan turun, namun ketika musim penghujan tiba, tenggok saja banyak petani yang mulai menggarap sawahnya menanam padi sebagai mata pencarian meraka karena kesuburan tanahnya namun mereka masih menggantungkan dari air hujan saja sebaigai pengairan dan tentu saja mereka hanya menanam padi dikala musim penghujan saja, karena curah hujan yang sedikit sekali.

Ketika musim kemarau betapa gersangnya persawahan mereka, namun itu tak membuat kita lupa untuk selalu bersyukur kepada-Nya, karena masih ada petani garam yang akan mengolah tambak garamnya, karena mereka membutuhkan panas matahari untuk mengkristalkan air laut, sehingga menjadi sebuah garam yang dengan kerja keras berpanas-panas membakar kulit mereka, kita dapat membuat masakan yang lezat dengan garam mereka.

Sebagian besar petani garam hidup di pinggir pantai beserta nelayan yang masih menggantungkan kondisi alam, ketika angin kencang, dan ombak besar dan serta di saat bulan purnama nelayan tidak pergi kelaut (menyang) untuk mencari ikan, dan terpaksa mereka mengganggur dan menghabiskan uang tabungan yang mereka simpan dulu. Dan masyarakat yang bertani tinggal di jauh dari pantai hidup di pedesaan yang tentu saja keadaanya tak terlalu sepanas di dekat pantai, yang hanya bisa menanam padi tak lebih dari 2 kali setahun, selebihnya ditanami tanaman tumpang sari.

Aku sebenarnya tinggal di pelosok pedesaan, sekitar 14 Km dari bibir pantai, dan termasuk dalam masyarakat yang sebagian besar bermata pencarian sebagai petani, namun tidak memudarkan diriku sebagai sebutan anak pantai, karena memang itu suatu kebanggaan dari pada di sebut anak dusun.

Didesaku, hidup ini terasa indah, bila kita dapat merasakan dibalik rahasia pesona alam raya yang dianugerahkan kepada Sang Pencipta untuk kemaslahatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi kita semua, begitupula dengan hari ini begitu indah seindah taman surga dengan kicauan burung-burung yang bertenger di dahan-dahan pohon yang mengalunkan nada-nada merdu penuh arti dari ciptaan Yang Maha Esa, serta eloknya gerak lambaian hijaunya padi yang menghampar luas, seluas jarak pandang kita lihat.

Kicauan burung-burung yang mengalunkan nada-nada merdunya bebas bersua tanpa ada rasa takut dan dengan ikhlas hati tanpa ingin menerima imbalan atas kicauannya yang merdu menambah merdunya alunan angin yang menambah akan syukurnya karunia Allah SWT. Serta gerak lincahnya meloncat-loncat, bermain-main di dahan pohon untuk mendendangkan nanyian anak desa. Dan juga hijau padi yang masih jauh dari pemberian pestisida.

Betapa indahnya pemandangan di desa ini, banyak sekali dedaunan hijau yang terbentang luas mata memandang. Mata serta hati ini serasa sejuk atas rasa syukurku terhadap karunia yang ALLAH SWT berikan kepadaku. Dengan udara dingin serta air jernih mengalir, mengaliri persawahan disekitarku, akupun yakin akan satu hal ternyata masih ada sisi-sisi nikmatnya hidup di desa ini. Lambaian angin meniup, mengalir dipermukaan kulitku, ada tarikan halus yang mengisyaratkan bahwa inilah tempatku saat ini sampai akhir hayatku kelak.

Inilah alamku yang sekarang aku pijak, menghadirkan sejuta kebahagiaan, kabut dingin yang menghiasi wajah pesonamu, dengannya kini aku mengerti apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita untuk kita syukuri sepanjang waktu.

GEDHEK


Hidup ini indah, bila kita dapat merasakan dibalik rahasia pesona alam raya yang dianugerahkan kepada Sang Pencipta untuk kemaslahatan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi kita semua, begitupula dengan hari ini begitu indah seindah taman surga dengan kicauan burung-burung yang bertenger di dahan-dahan pohon yang mengalunkan nada-nada merdu penuh arti dari ciptaan Yang Maha Esa, serta eloknya gerak lambaian hijaunya padi yang menghampar luas, seluas jarak pandang kita lihat.

Kicauan burung-burung yang mengalunkan nada-nada merdunya bebas bersua tanpa ada rasa takut dan dengan ikhlas hati tanpa ingin menerima imbalan atas kicauannya yang merdu menambah merdunya alunan angin yang menambah akan syukurnya karunia Allah SWT. Serta gerak lincahnya meloncat-loncat, bermain-main di dahan pohon untuk mendendangkan nanyian anak desa. Dan juga hijau padi yang masih jauh dari pemberian pestisida.

Betapa indahnya pemandangan di desa ini, banyak sekali dedaunan hijau yang terbentang luas mata memandang. Mata serta hati ini serasa sejuk atas rasa syukurku terhadap karunia yang ALLAH SWT berikan kepadaku. Dengan udara dingin serta air jernih mengalir, mengaliri persawahan disekitarku, akupun yakin akan satu hal ternyata masih ada sisi-sisi nikmatnya hidup di desa ini. Lambaian angin meniup, mengalir dipermukaan kulitku, ada tarikan halus yang mengisyaratkan bahwa inilah tempatku saat ini sampai akhir hayatku kelak.

Inilah alamku yang sekarang aku pijak, menghadirkan sejuta kebahagiaan, kabut dingin yang menghiasi wajah pesonamu, dengannya kini aku mengerti apa yang telah diberikan Allah SWT kepada kita untuk kita syukuri sepanjang waktu.

Diriku adalah anak desa yang ketika kecil bermain-main dengan pelepah pisang ditemani dengan kicauan burung-burung yang terbang bebas tanpa ada rasa takut untuk terluka karena jatuh, karena kami bermain dengan teman sebaya dengan rasa kebahagiaan dan canda tawa dan waktu remaja sebagian besar mencoba untuk mencari sebuah ilmu tentang luas dan indahnya dunia sebagai ciptaan Allah SWT untuk aku cari dibalik penciptaan alam raya ini dan sebagai bekalku dimasa tua dengan berhijrah jauh dari rumah tinggal, tentu saja dengan bekal dari do’a orang tua yang selalu menyertaiku, karena ridho orang tua merupakan ridho Tuhan jua.

Ditemani dengan kicauan burung-burung yang terbang bebas menembus awan biru, akupun menyusuri jalan di sepanjang petak sawah yang menghijau. Serta kubentangkan tanganku untuk menghirup udara yang pagi hari ini, segar. Sambil mendendangkan nyannyian pedesaan kurentangkan tanagnku dan kupejamkan mataku untuk menikmati hawa segar pedesaan yang memang jauh dari keadaan di perkotaan.

Bermain-main disekitar rumah kampung yang masih berupa gedhek (anyaman dari kulit bambu), dan jalanan yang masih berupa tanah liat yang kalau hujan pasti tanahnya becek, tapi itulah kesenangan kami ketika hujan tiba, bermain-main sambil hujan-hujanan di sekitar rumah sehingga membuat tanahnya menjadi lembek dan becek, dengan hanya menggunakan celana pendek mencoba membelah desa berlari-larian dan esok harinya tentu saja kami sudah kebal dengan penyakit demam, karena kami sudah terbiasa.

Aku tidak sendirian masih ada juga teman-teman yang seusia denganku yang selalu bermain bersama, entah itu hanya sekedar bermain di sungai untuk mandi ataupun hanya untuk mencari ikan, dengan pancing yang kita buat sendiri. Serta kami memang hidup di desa menghabiskan masa kecil dengan seluruh kasih sayang orang tua, selalu dibimbing dengan ketatnya nilai-nilai agama, serta diberikan bekal hidup walau itu hanya, wejangan yang diberikan orang tua setiap saat, entah wejangan berupa teguran karena kita salah maupun wejangan untuk mendukung kita, untuk selalu rendah hati terhadap siapapun dan selalu menghormati orang tua.


“Seandainya saja kita bisa hidup berdampingan dengan semua manusia, melupakan segala perbedaan kita tentu hidup ini seindah surga, tanpa ada rasa permusuhan yang malah akan membuat kita tercerai berai, membuat kita sebagai manusia yang tidak berbudaya”.


Translate

Thanks for your donate

MY POPULAR POSTS

 

Follow by Email

THE BEST BLOGGER

Mari Berbagi Kata dan Laporkan jika ada Error link