Friday, July 24, 2009

KELUARGA BESAR TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

by rufadi islah, adi.islah@gmail.com

“Dengan Iman dan Akhlak Saya Menjadi Kuat,
Tanpa Iman dan Akhlak Saya Menjadi Lemah”


PENGHORMATAN TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH, AMAR MAKRUF NAHI MUNKAR.



TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH SURAKARTA UNIT 003 DALAM ACARA LATIHAN LUAR YANG DIADAKAN DIWADUK WONOGIRI, PADA TANGGAL 23 SEPTEMBER 2007.




TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH PONDOK PESANTREN MODEREN ASSALAM SURAKARTA DALAM ACARA KENAIKAN TINGGKAT YANG DIADAKAN DIUMBUL TLATAR, BOYOLALI, PADA TANGGAL 11 APRIL 2009.




TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH SURAKARTA UNIT 003 DALAM ACARA PELANTIKAN KENAIKAN TINGKAT YANG DIADAKAN DIKAMPUS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA.



PENGURUS TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA MASA JABATAN 2005/2006.





ALUMNI ANGGOTA DEWAN KADER TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA, DEPAN AUDITORIUM UMS KAMPUS I.



ANGGOTA DEWAN KADER PERIODE 2007 TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA, DEPAN GOR UMS KAMPUS II.



FOTO BERSAMA ANGGOTA TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003, DI DEPAN POSKO TAPAK SUCI, KAMPUS I.



KEJUARAAN ANTAR FAKULTAS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA.



SERAH TERIMA JABATAN ANGGOTA TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA, DI KAMPUS I, BAWAH HALL MASJID/DEPAN AUDITORIUM UMS.



ACARA BERSAMA DALAM MERAIH MEDALI KEJUARAAN, TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003, UMS.



TEAM TANDING UMS, DALAM KEJUARAAN PENCAK SILAT, SE-JAWA.



ACARA DIPEGUNUNGAN, DINGIN EUYY!!!!!!!!



PENGGURUS PERIODE 2000, TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA.



DEWAN KADER TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH, ALUMNI.



PELANTIKAN KENAIKAN TINGGKAT TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003, UMS.



DEWAN KADER TAPAK SUCI UMS.





LATIHAN LUAR, TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003.



KENAIKAN TINGKAT, TS UMS.




DI PINGGIR PANTAI PARANGTRITIS, DALAM CANDA TAWA, TS UMS.




ACARA WISUDA ANGGOTA TS UMS.



FOTO BERSAMA, TS UMS. SEMOGA KITA AKAN SELALU BERSAUDARA DIMANAPUN KITA BERADA. SEMANGAT KEKELUARGAAN TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH UNIT 003 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA.

AKU BERAKAL TAPI TIDAK BAHAGIA?????






by adi.islah@gmail.com



"AKU BERAKAL TAPI TIDAK BAHAGIA"......Itulah sekiranya yang kupikir pada malam hari ini, yang sunyi dan kesepian hati ini terasa. Kemana saja semua orangpun aku tidak mengetahui, bahkan aku mungkin orang yang kurang perduli dengan semua tingkah laku yang kusebut dengan sebutan “teman-teman” di sekitarku.

Begitu sunyi malam ini, sehingga suara kipaspun yang berputar cepat dengan keras kudengar seperti halnya Singa padang pasir yang meraung-raung bagaikan kehausan yang sangat.

Kumulai berpikir tentang keadaanku, keadaan dimana aku merasa bahwa diriku hanya sebuah tanah yang diberi-Nya ruh, serta akal yang banyak dikatakan orang, aku ini bernama "MANUSIA" yang tak lain sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Dan apakah aku bahagia sebagai makhluk ciptaan-Nya di dunia ini.

Kurenungi segala yang ada, yang melekat dalam badan yang masih belumlah sempurna kumengerti akan segala nikmat yang telah ALLAH SWT berikan kepada hambanyanya yang belum tahu akan segala kewajiban-kewajiban yang harus dikerjakan didunia dan masih sangat butuh akan suatu pencerahan yang datangnya hanya dari Yang Maha Esa (Allah SWT).

Antara akal dengan bahagia apakah ada keterkaitan tersendiri atau keduannya saling perpisah dan tidak terikat satu sama lain, tanya dalam hatiku.

Teringat olehku kemarin aku membaca buku yang sudah tua setua umur Bapakku yang tentu saja apabila diperbandingkan antara usia Buku ini dengan umur Bapakku ternyata lebih tua buku ini, dari pengarangnya pun uhhh,………. sangat terkenal dan termasuk alim ulama Indonesia, Dr. HAMKA (Dr. Hadji Abdul Malik Karim Amrullah). Salah satu cendekiawan muslim terkenal di Negara Indonesia yang aku kagumi karya-karyanya. Dalam bukunya berjudul “TASAUF MODERAN”, 1940 Cetakan Kedua:

Dr. HAMKA berpendapat bahwa derajat bahagia manusia itu menurut derajat akalnya, karena akallah yang dapat membedakan antara baik dengan buruk; akal yang dapat mengagak-agihkan segala pekerjaan, akal yang menyelidiki hakikat dan kejadian segala sesuatu yang dituju dalam perjalanan hidup ini. Bertambah sempurna, bertambah indah dan murni akal itu, bertambah pulalah tinggi derajat bahagia yang kita capai: -Kepada kesempurnaan akallah kesempurnaan bahagia.

Tambahnya pula:
Akal manusia bertingkat, kehendak manusia berlain-lain menurut tingkat akal masing-masing. Setengah manusia sangat cinta kepada kehormatan dan kemuliaan, sehingga simpang perjalanan dan segala ikhtiar dipergunakannya untuk sampai kesitu. Ia mau berkorban, mau menempuh kesusahan dan kesakitan asal ia bisa mencapai kemuliaan dan kehormatan. Padahal setengah golongan tidak peduli semua itu. Buat dia, asal dapat mencapai hidup. Tak mengganggu orang lain, cukuplah. Apa gunanya menghabiskan tenaga untuk mencapai kemuliaan dan kehormatan yang sebagai mimpi.

Harta benda, sebagaian besar manusia berusaha mencari, bersusah payah, berhabis tenanga, tidak perduli hujan-panas, haus-lapar, kadang-kadang berhilang-hilang negeri, meninggalkan kampong, anak isteri dan handai tolan; padahal ada pula golongan yang tiada peduli akan harta benda itu, asal hatinya tenteram didalam khalwat mengingat Tuhannya, sebagaimana kebiasaan ahli-ahli zuhud dan shufi yang mashur; asal lekat pakaian untuk menutup aurat, dapat sesuap pagi dan petang, cukuplah. Dia ingin kekayaan yang lebih kekal dari harta. Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah sempit pula hidup, bertambah datanglah celaka. (Dr. HAMKA, 1940: 16-17).

Duhhh, betapa berat pikiranku yang kurasakan kali ini, banyak sekali yang terpikir yang belum ku pecahkan akan semua pertanyaan didiri ini yang masih buta akan ilmu kebenaran yang hakiki, tentang akal dan bahagia.

Kurenungkan dalam-dalam sebaris kalimat dari Dr. HAMKA tersebut, kurenungi berharap akan ku temukan setitik cahaya terang yang membelenggu pikiranku yang masih jahiliyah ini. Kuselami bait demi bait berharap dapat kumengeri akan keseluruhan arti kalimat tersebut. Dan kumulai bertanya di dalam hatiku, apakah pikiranku sudah selaras dengan yang beliau pikirkan, harapku cemas.

Dalam hidup ini kurasakan bahagia dikala aku terbebas dari rasa kesal, sedih, marah, dendam, duka, dan aniaya diri. Namun aku hampa terhadap kesenangan semu yang dapat membuat hati serta pikiran ini melupakan bahwa ada sesuatu kewajiban yang telah aku lalaikan dengan sengaja ataupun tidakku sengaja.

Sesal sekali bila kita merasa bahwa perbuatan yang lalu begitu saja tanpa kita pikirkan bahwa perbuatan tersebut telah membuat hati orang lain terluka. Sesal mungkin datangnya belakangan namun rasa berdosa akan selalu menghantui setiap langkah yang masih mengharapkan jalan yang benar dari Yang Maha Esa.

Kecil sekali hati ini apabila ada seseorang yang berkata bahwa perbuatan dan tingkah laku kita menyimpang dari kaidah-kaidah agama. Sangat kecil hati kita apabila perbuatan yang pernah kita lakukan sekuat tenaga kita ternyata hanya merupakan beban bagi orang lain, yang membuat kebahagiaan hati menjadi tertahan.

Duuuh, apa gerangan saja yang telah aku lakukan sehingga orang lainpun menanggung akibat dari perbuatanku yang kurang baik tersebut, apakah mereka bersusah hati (tidak bahagia) atas segala tingkah lakuku. Akan terasa bahwa ilmu yang telah kudapat dari belajarku selama ini hanya sebagaian dari kulit luarnya saja yang kulakukan selama ini ternyata hanya mengetahui ilmu tersebut pada kulit luarnya belum sampai kedalam intisarinya. Harus apa lagi yang aku lakukan demi untuk mengejar ketertinggalanku yang selama ini masih membentangkan kegundahan akan arti kebahagiaan dihati ini.

Kumerasa bahwa ilmu ini hanya sampai di tekakku saja (leher) belum sampai pada hati, tanyaku dalam hati apakah yang harus aku lakukan, aku pelajari untuk sampainya ilmu itu masuk dalam hatiku; yang mungkin sudah hitam pekat akan suatu perbuatanku yang selama ini mengotori bersihnya hati.

Kumulai merenung akan segala kejadian-kejadian yang telah lalu kuperbuat, bahagia banyak sekali faktor yang melatar belakanginya, seperti halnya kita melakukan perbuatan dan adalah bahagia dunia yang kita telah mampu menjalankan kewajiban-kewajiban kita kepada ALLAH SWT dan tidak bahagia kita akan sesal di dunia bila kita melalaikan segala kewajiban-kewajiban kepada ALLAH SWT, serta kebahagiaan akhirat yang dengan segala amal perbuatan kita di dunia akan dihisab dan akan ditentukan apakah bahagia di akhirat berarti bahagia karena surga atau malah sengsara akibat dari kesombongan kita di dunia, yaitu neraka.

Semoga amal ibadahku di dunia menjadikan bahagia di akhirat kelak, amin!!!

Friday, July 17, 2009

DENGAR KELUHKU





Dengan peluhku, kumulai berpikir akan semua yang ada di alam ini berikut isinya. Entah ada apa saja di alam raya ini (sebagai ciptaan ALLAH SWT), sebagai tanyaku untuk kurenungkan.

Aku mulai membaca buku dari pencarian jati diri selama ini, yang kutemukan secara tidak sengaja, mungkin inilah jalan yang ALLAH SWT ingin tunjukkan kepadaku yang masih buta ilmu ini.

Dengan cara membaca buku, serta literature dari internet aku mulai mengarungi bahtera alam raya ini, semakin aku membacanya semakin besar pula ilmu yang selama ini belumku mengerti; semua kandungan dari segala peristiwa-peristiwa yang kualaimi dan semakin dalam kubertanya-tanya akan apakah alam raya ini diciptakan.

Pernah kubaca salah satu buku yang ada di rak usang tempatku bernaung dari hujan dan teriknya mentari; alam raya ini di ciptakan bagi manusia untuk menjalani ujian untuk selanjutnya ujian itu akan memperoleh hasil surga ataupun neraka, dan di surga saja begitu banyaknya nikmat yang masih kita nikmati selama ini apalagi di dalam surga tentu saja banyak sekali hal-hal yang tidak bisa kita pikirkan di dunia, nikmat yang akan kita peroleh di surga jika kita menjalani kehidupan di dunia ini sesuai dengan kaidah-kaidah agama (islam) yang sesungguhnya.


Yang menjadi pertanyaan di hatiku selama ini adalah mengapa manusia lebih mudah untuk terperosok dalam jurang kesesatan dari pada selamat menjalani kehidupan yang lurus dan diridhoi oleh ALLAH SWT.

Dari salah satu lagu yang pernah kudengar bahwa mengapa manusia lebih suka memilih untuk menjalani kesesatan dengan biaya mahal (minum-minuman keras serta makanan yang tidak halal, yang belum tentu akan baik bagi tubuh manusia) sedang makanan yang lebih sehat serta lebih mudah kita peroleh, kita tinggalkan.

Begitu mudahnya seseorang untuk terjungkal dari perkara aniaya yang belum tentu kita sadari kita melakukan kesalahan berakibat pada dosa yang terus bertambah pula, seakan-akan kita tidak mengetahuinya serta begitu cepat kita melupakannya.

Tanpa rasa bersalah di diri kita, penyesalan maupun rasa berdosa.

Aku mulai mengeluh mengapa ilmu yang ada di diriku ini belumlah kuat untuk menjawab semua pertanyaan yang ada dibenakku. Mengeluh pada segala aktifitasku yang selama ini kadang-kadang begitu sia-sia.

Terkadang aku merasa sebagai manusia yang sombong akan nikmat yang pernah kuperoleh dan terkadang aku begitu kecil, begitu tidak berdaya, dan begitu lemah.

Mungkin inilah sebagai tanda bagiku bahwa diriku adalah manusia dengan lemah iman.

Setiap selesai ibadah yang kujalani (shalat) aku berdoa dengan doa untuk diberikan (dibukakan) pintu ilmu yang seluas-luasnya bagiku, akan tetapi tidak pula dengan segala ikhtiar yang kujalani masih begitu kurangnya, yang ada hanya rasa malas yang melanda di dalam kesadaranku.

Sehingga doa ini terasa percuma yang tidak aku barengi dengan ikhtiar yang jelas. Namun alhamdulillah ALLAH SWT tidak melupakan hambanya yang masih lemah ilmu ini, sedikit demi sedikit aku mendapatkan ilmu itu secara tidak sengaja, baik melalui tingkah laku manusia yang pernah aku lihat maupun dalam berbagai teks-teks bacaan yang pernah ada di tanganku yang pernah kubaca kurenungi arti kandungan buku tersebut dan tingkat pemahamanku yang masih terbatas ini.

Sekali lagi rasa penasaranku begitu mendalam untuk kucari kebenaranya.

Pernah ku merenung seandainya di dunia ini tidak ada orang yang miskin harta, tentu tidak ada orang yang merasa kaya harta, karena orang kaya harta itu akibat dari perbandingan dengan orang yang tidak mempunyai harta lebih (miskin harta).

Serta orang yang merasa bahagia di karenakan dia pernah merasakan kesedihan.

Namun yang jelas dihadapan ALLAH SWT yang membedakan hanya tingkat keimanannya.

Semakin tingkat imannya tinggi maka derajat yang diberikan akan tinggi pula.

Ingin ku berbagi keluhanku dengan sesamaku (manusia) sebelum tiba ajalku, ingin ku mengerti akan segala kengintahuanku yang mendalam akan banyak hal yang terkandung dalam artinya hidup di dunia ini, ingin ku merasa bahwa aku lebih mensyukri nikmat yang telah aku terima, inginku menjalani keimanan yang sesungguhnya sebelum tiba masa pencabutan roh dari tubuh yang tidak akan abadi ini, ingin ku tak lupa berucap kalimat shahadat ketika malaikat mulai mencabut roh dari tubuh ini, ingin kuberbakti kepada ALLAH SWT dengan beribadah ikhlas atas segala nikmat yang diberikan di dunia ini, inginku diikutkan dalam barisan umat Nabi Muhammad SAW yang beada di surga kelak, Ada banyak pemahaman yang mungkin belum kupahami selama ini, entah sampai kapan aku hidup dalam masa kegelapan, bukan mata melainkan hatiku masih belum terbuka ataupun belum mendapatkan cahaya terang dari ALLAH SWT.

Aku berharap sebelum ajal menjelang, aku mendapatkan sisi terangnya cahaya kebenaran itu akan menyinari diriku yang masih bersikap jahil ini.

Jalan yang ingin kutempuh merupakan jalan yang terjal karena belumku mengenal akan semua ilmu yang mendampingiku untuk ku berjalan beriringan.

Jalan itu masih hilang belum kutemukan, masih samara-samar kupandang segala penjuru langit. Mungkin hidupku masih terasa remang-remang belum ada kejelasan, aku merasa jalan ini masih hilang, serta pekat.

Mungkin begitu pengecutnya (untuk mencari ilmu) diriku ini sehingga jalan itu masih belum kutemukan.

Semoga dapat kutempuh jalan itu walaupun masih dalam keadaan gelap, mungkin akan kuraba-raba, dan menerka-nerka.

Serasa langit itupun begitu pekat sekali untuk aku pandangi bukan karena awan yang mendung akan tetapi karena mata batinku yang belum dapat melihat seluruh hamparan langit luas yang putih bersih.

Akankah diriku dapat menujuMU wahai Dzat yang memiliki semua alam raya ini, akankah diriku mampu mencapai taman surgaMU, walaupun hatiku belum seputih awan dilangit.

Hati ini terasa keras sekali, sehingga akupun tak mampu untuk menemukan hal yang sebenarnya, betapa keras serta kuatnya hatiku untuk masih bersifat jahil.

Banyak keinginan hati ini untuk berubah, berubah dari aniaya diri.

Lingkungan tak dapat aku salahkan dari akibat cara bergaulku yang masih bergaul kepada orang-orang yang masih sedikit ilmu tentang kebijakan.

Terlenanya diriku yang masih kerasnya hati ini untuk selalu berpendirian teguh akan kerusakan yang aku perbuat.

Sepanjang waktu ini aku bertahan dari hati yang masih salah, untuk ku perjuangkan supaya hatiku menjadi hati yang terang.

Sekedar mimpi atau cita-cita,….?????







Merupakan pertanyaan dasar tentang kesunyian malam ini yang hanya kilauan bintang yang tentu terang menghias gelapnya langit malam hari. Namun tidak dengan suasan hatiku yang masih ragu tentang tanya hatiku siang hari tadi. Tanya hatiku sebenarnya sederhana saja, antara mimpi dengan kenyataan yang mesti kujawab untuk menenangkan tidurku malam ini nanti. Kuselami arti kata tersebut dan mulaiku artikan dengan segala isi pikiranku selama ini.

Menurutku Mimpi merupakan kisah yang hanya terjadi di dalam tidur semata, dimana kesadaran yang kita rasakan tidak ada dalam kenyataan (dunia), akan tetapi mimpi hanya berupa bayangan semu tentang suatu cerita dalam tidur. Sebaliknya cita-cita merupakan khayalan seseorang dalam dunia nyata yang menghadiri dalam segala tujuan hidup yang ingin dicapai. Kaitan mimpi dengan cita-cita hanya terpaut akan satu hal yaitu terkait dengan keinginan seseorang untuk berbuat diluar dari kenyataan yang sudah di lakukan.

Kumulai ragu dan kumulai tidak percaya akan jawabanku tadi, dan kumulai menyesalkan tentang, Mengapa diriku ini jauh akan ilmu yang sekarang malah menjerumuskanku pada pikiran-pikian yang tak tentu arah maupun dimana muaranya. Tentang mimpi saja aku kurang paham cara mengartikannya, dan tentu saja dengan cita-cita itu juga arti sebenarnya akupun tidak mengetahuinya,…hanya malam yang sunyi ini aku curahkan, mungkin desir udara yang bisa menjawabnya dan teorema pikiran yang sempit ini yang akan menerawang jauh dijauhnya tingkat pengetahuanku.

Sudah lama aku berpikir tentang pertanyaanku tadi yang terus mengelora pada siang hari ini, yang tentu saja belum kudapatkan jawabannya pada malam, petang, dan sunyi ini..

“Uhhhh, ………….”. Keluh dan kesahku seakan menghantui pikiran sempitku.

“Mengapa bisa dan mengapa terjadi itu suatu hal yang mesti kutanyakan sekarang dalam hati ini”, Pikirku dalam hati.

Suara angin yang mengalunkan kemerduan yang sangat membuat hati ini tenang serta kesadaranku dari kepayahan aktifitasku pagi hari ini, mulai terusik akan hadirnya Tanya batinku itu.

Kurenungi dalam-dalm dan kumulai mencari pola dari pertannyaanku tadi. Dan batinkupun berpikir tentang banyaknya yang sudah terjadi lantaran dari hasil mimpi maupun cita-cita,. Banyak orang yang mampu merubah dunia dari sekedar wujud mimpi yang maya itu. Dan dari keingginan seseorang akibat dari dalamnya cita-cita tersebut.

Diriku merupakan seorang yang tak tahu apa itu mimpi dan apa itu cita-cita aku kira selama ini mimpi dengan cita-cita itu saling berkaitan erat, kubuka kamus hitam yang bertuliskan kamus lengkap bahasa Indonesia mulai kubuka dan kuurutkan kata tersebut secara pasti. Dan kutemukan hakikat mimpi itu:
Mimpi adalah pada yang kelihatan atau yang dialami dalam angan-angan pada ketika tidur; memimpikan: mencita-citakan: mengharapkan, biasanya yang bukan-bukan dan kucari apa itu cita-cita, angan-angan, pikiran, kehendak, dan harapan dalam hati. (Drs. Suharso, 2005: 322).

Aku mulai mengerti apa alur dari jawaban yang ingin kucari, cita-cita hampir sama dengan mimpi yang tak lain adalah sesuatu yang diinginkan, diharapkan, dan dikehendaki oleh seseorang.

Dan akhirnya kutanyakan dari hatiku apa mimpi dan apa cita-citaku. Mimpiku tidak serumit dari yang orang kira, mimpi hanya untuk hidup bahagia dan tentu saja hidup sederhanalah yang bisa melanggengkan mimpi-mimpiku tersebut. Dan cita-citaku selama ini dapat mengetahui hakikat dari apa yang terjadi berkaitan dengan alam raya inilah yang ingin kumengerti. Itu mimpi serta cita-citaku, semoga saja apa yang ingin kuimpikan dan kucita-citakan dapat kugenggam walaupun seperti menggengam butiran pasir, namun dengan sekuat tenagaku butiran pasir itu takkan tumpah semua.

Translate

Thanks for your donate

MY POPULAR POSTS

 

Follow by Email

THE BEST BLOGGER

Mari Berbagi Kata dan Laporkan jika ada Error link