Saturday, May 15, 2010

AMALAN MEMBUKA PINTU SURGA

Didalam sebuah buku “Penyejuk Jiwa” “Mutiara Hikmah Dibalik Kisah”, oleh Musa Siregar.


Ada sebuah kisah yang mungkin lebih baik untuk kita renungkan terutama bagi membina keluarga yang baik, dan di rahmati oleh Allah SWT.


Semoga dengan cerita ini kita mampu memberikan suatu perilaku yang baik untuk bekal di akherat kelak.


Berjudul “AMALAN MEMBUKA PINTU SURGA”, (Siregar, 2005: 133-144) yang saya bagi menjadi dua posting-an biar mudah untuk membaca dan memahaminya, semoga bermanfaat bagi kita semua.


Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan suka cita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.


Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeser pun. Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.”


“Terima kasih,” jawab Ali.


Matanya memberat lantara istrinya begitu tawakal./ padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukkan sikap kecewa atau sedih. Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah.


Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. ”Maaf anak muda, betul engkau Ali anaknya Abu Thalib?”


Ali menjawab heran. ”Ya betul. Ada apa, Tuan?”


Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, ”Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya. Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar. Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadiann itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Ali pun bergegas berangkat ke pasar.


Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”


Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu. Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, ”Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya mengalaminya. Lebih baik kita, menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.”


-------o-------

I’tibar [bersambung]

Comments :

1

Post a Comment

Thanks for Your Comment!