Sunday, September 13, 2009

JUJUR DAN SETIA BUKAN BERARTI BODOH

rufadi islah
by adi.islah@gmail.com

Alkisah dahulu kala ada sebuah cerita tentang seorang budak, dan majikan. Budak tersebut dari golongan kulit hitam yang tentu saja sangat kuat dan juga menyeramkan raut mukanya, dia sangatlah pendiam dan juga cekatan dalam semua kerjaan yang diperitahkan oleh majikannya yang di beli oleh seorang perkebunan kurma yang sangatlah kaya raya, yang mempunyai beribu-ribu hektar lahan kurma, dan dia juga seorang majikan yang dermawan dan sangat ahli dalam bidang keuangan.

Suatu ketika dia (sang majikan) pergi kepasar guna ada kepentingan menyangkut masalah pekerjaan di perkebunan kurma, karena dia membutuhkan seorang tenaga kerja yang murah dan tentu saja cekatan dalam bekerja. Sehingga dia pergi kepasar untuk membeli seorang budak untuk di jadikan seorang pekerja di perkebunan kurmanya. Dia ingin memilih seorang yang kuat tangkas dan juga tak banyak omong. Dia melihat kesana kemari namun dia tidak menemukan kriteria yang dia ingini, tibalah dia di sebuah pojok pasar yang sudah jauh dari keramaian, dan dia menemukan sesosok orang hitam legam dan juga sangat dekil.

“Wah,…….. ini seorang budak yang kucari untuk mengurus perkebunan kurmaku”, pikir dalam hati sang majikan.

“Berapa kamu jual budak ini pak?” tanyanya pada seorang penjual budak yang gemuk dan juga beraut muka mengerikan.

“Ahhhh,……murah saja kan ku jual budak ini, lagian sudah berhari-hari tidak ada seorangpun yang mau membeli, mungkin karena takut”, jelas sie-penjual budak kepada sang majikan.

“Kalau begitu saya saja yang membelinya,…ini uangku kau ambil semua”, jelas sang majikan kepada penjual budak.

“Banyak sekali,…ini lebih dari cukup, sudah kau ambil saja budak jelek ini”, paksa penjual budak tersebut.
“Baiklah kalau begitu,…. Wahai kau budak ikut aku saja,…….insyaallah hidup kau tak akan kekurangan, akan ku jadikan kau budak yang mendapatkan semua hak-hakmu”, jelas sang majikan kepada budak tersebut.

Budak itu tidak menjawab hanya mengangguk saja mungkin karena sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu patuh dan taat kepada majikan-majikannya.

Alhasil budak tersebut berhasil di belinya dengan harga yang sangat murah sekali. Sehingga orang tersebut sangat senang sekali pulang dengan membawa seorang budak belian yang punya tenaga yang kuat dan juga berharga murah sekali.

Setelah sampai di perkebunan, sang majikan memberikan semua perintah mulai dari kewajibannya untuk mengangkut keranjang-keranjang sampai kepada hak-haknya untuk mendapat beberapa jatah makan untuk perharinya.

“Kau sudah paham dengan segala kewajibanmu dan juga hak-hakmu”, jelas sang majikan.

Begitu juga dengan budak tersebut hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tanda dia telah setuju dan juga paham segala perintah majikannya tersebut.

Setelah itu budak tersebut di perintahkan untuk mengangkut barang-barang berupa keranjang-keranjang buah kurma yang diangkut dari perkebunan sampai ke kendaraan, pada waktu itu sebuah kendaraan adalah hanya keledai dan onta saja.

Dia sangat cekatan, kuat dan juga tidak mengecewakan, tibalah saat-saat dimana sang majikan terheran-heran dengan pekerjaannya, karena dia membeli seorang budak yang sangat murah sekali namun dia bekerja sangat cekatan dan juga tak banyak bicara maupun mengeluh, senhingga sang majikan sangat puas dengan hasil pekerjaannya.

Setelah beberapa tahun berlalu, tiba-tiba ada seorang mandor yang sakit sehingga mau tak mau sang majikan harus mengganti sementara jabatan mandor kepada orang lain, terlintas pikirannya pada sesosok budak yang hitam legam namun cekatan itu, karena piker sang majikan sudah tentu dia lebih berpengalaman dan juga sangat cekatan dalam bekerja.

“Hei kau,…………. Budak dekil kesini,………………” pinta sang majikan

“Kamu kan tahu mandor sedang sakit kemungkinan satu minggu ini tidak ad yang mengawasi perkebunan ini, kau saja yang harus jadi mondor menggantikan mandor yang sakit itu, dan tugas kamu memilih kurma mana yang baik dan juga layak untuk di jual di pasar, “ perintah sang majikan.

“Jawablah sekali-kali ketika aku bertanya kepadamu jangan haya kamu mengangguk-angukkan kepalamu, kamu ini juga manusia layaknya aku, bicaralah walau hanya sedikit,” Pinta sang majikan.

“ii…ya Tuanku,” balas budak tersebut dengan badan gemetar karena bukan kebiasaanya untuk membalas kata dari majikan.

“Begitu lebih baik, janganlah kamu selalu membisu,” jelas sang majikan.

“Sudah sana kau urus itu kurma-kurma yang nanti mau di jual,” perintah sang majikan.

Namun apa yang di perintahkan oleh majikannya itu tidaklah mulus yang di perbuat waktu mengangkut keranjang-keranjang kurma. Semua hasilnya tidak memuaskan, banyak buah kurma yang masih hijau di petiknya, sehingga tidak akan ada seorang pembeli yang membelinya.

“He,………kau budak dekil sini kau,….mengapa jualanku hari ini tidak mendapat untung malah rugi banyak, bodoh sekali kau masak kamu tidak tahu mana buah yang layak di jual dan yang belum layak untuk dijual, semua buah kau ambil ada yang masak dan belum masak kau jadikan satu, rugi besar hari ini daganganku…….he jangan diam, kubunuh kau,..bicaralah!!!”, marah sang majikan.

“Maaf tuanku aku tidak tahu buah kurma yang telah masak dan siap di jual dan juga yang belum masak,…aku tidak tahu akan hal itu,………….,” jawab budak.

“Masak kau tidak tahu akan buah kurma yang telah masak dan belum, kau kan sudah bekerja bertahun-taun di perkebunan ini,” Gertak sang majikan.

“Ampun Tuanku,…… benar hamba tidak tahu, karena tugas hamba dulu itu hanya di suruh mengangkut keranjang kurma saja, saya tak pernah memakan buah kurma tersebut sedikitpun sehingga hamba tidak tahu mana buah yang telah masak dan belum masak,…ampun Tuanku!!!” pinta budak dengan suara memelas.

Mendengar penjelasan dari budak tersebut, sang majikan sampai terharu mendengarnya, dan dia merasa ikut bersalah juga, karena dia dulu memberikan tugas kepada budak ini hanya untuk mengangkut keranjang-keranjang kurma tersebut.

“Ohhh,…………..begitu rupanya yang terjadi, aku sampai terharu mendengar penjelasanmu itu wahai budakku,………. Ternyata hari ini aku telah salah memarahimu, karena kamu belum tahu buah mana yang masak dan yang belum masak,………” Jelas sang majikan terharu.

“Kamu adalah budak yang baik, dan juga jujur, bahkan setia tidak penah menyalahi tugas-tugasmu,……..sekarang aku baru sadar bahwa kau ini pemuda yang rajin bekerja,…sekarang aku pinta kamu membantuku dan juga menjadi orang kepercayaanku akan aku merdekakan kamu sekarang juga,…..” tegas sang majikan.

Menagislah budak tersebut dan berucap “Terimakasih ya Allah SWT Engkau kabulkan do’aku selama ini,……………… “ ucap budak yang telah di merdekakan oleh sang majikannya karena kesetiaannya dan juga karena kejujurannya selama ini. Sehingga dia seorang budak yang telah merdeka sujud syukur atas terkabulnya do’anya.

Dari cerita yang aku sendiri juga lupa dari mana serta dari sumber buku apa kurang jelas, ini merupakan pengembangan dari narasiku, entah kejadian ini nyata atau tidak, aku kurang tahu,…………. Apabila ada narasi yang kurang tepat mohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga cerita ini memberikan ilmu kepada teman-teman semuanya, jangan pernah menyalahi tugas, apalagi yang bekeja dalam naungan Dinas Pemerintahan, karena yang diamanatkan adalah kepentingan umum.

Comments :

2 comments to “ JUJUR DAN SETIA BUKAN BERARTI BODOH ”


Post a Comment

Thanks for Your Comment!