Perubahan dunia yang begitu mendadak membuat manusia beradaptasi secara ekstrem melewati berbagai kemungkinan-kemungkinan yang tak terpikirkan oleh kita sebelumnya, hadapi, lalui, dan saling menjaga.
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Monday, February 28, 2011
Teknologi Licik Setan

Setelah membuka-buka buku yang ada di rak buku, ada sebuah buku yang ingin kembali kutulis sebagai sebuah refleksi bagi kita semua.
Di dalam buku ini “Kaya tapi Miskin” ada sebuah kisah tentang “Setan “Menyerah””, baik ceritanya demikian; [versi aslinya]
Setan “Menyerah”
Suatu saat, setan mendemo Tuhan. Mereka tidak lagi mau menggoda umat manusia. Pendek kata, mereka mengadakan mogok kerja.
Sunday, November 22, 2009
si-Raja Lalim
Sepenggal kisah yang dengannya kita tak harus menjadi seorang tokoh dalam cerita ini, semoga ALLAH SWT melindungi Bangsa kita dari kejahatan pemimpin yang Lalim, amin ya rabbal alamin.
Cobalah untuk mengerti keadaanku sekarang ini, mata tertutup, bibir terkunci rapat, serta hatipun tak dapat terbuka. Entah apa yang telah aku lakukan sehingga dengan keadaanku sekarang ini menjadikan orang lain pesimis, mungkin inilah tujuan hidupku dan akibat terlalu banyak diriku untuk membutakan hati yang lain.
Sampai kapan ini berakhir, kepayahan otakku yang tak kunjung mereda menjadikan aku seperti ditengah-tengah ketidak berdayaanku hidup di dunia ini.
Layaknya roda yang terus berbutar sehingga menjadikanku payah akibat yang tak tahu ujung pangkalnya.
Mulai kumerenung dalam dunia mayaku, lalu terbersit keinginan untuk berinovasi, namun itu hanya angan-angan yang tak tentu realitasnya.
Kupikirkan dalam-dalam baik serta buruknya, namun tak sampai otakku untuk menjangkaunya yang ada hanya buah pikiran yang tak tentu arah.
Seperti terombang-ambing diriku ini, yang tak tahu kuat seperti batu karang yang kuat dan kokoh walaupun terjangan ombak akan selalu nenerjang.
Rapuh pula tembok hatiku ini terkikis oleh air hujan yang menderaku siang-malam hingga diriku tak mampu kokoh berdiri layaknya bangunan sempurna, sehingga tiba banjir menerjang tak kuasa aku berdiri kokoh sebagai tembok.
Mungkin bibir ini akan tertutup, akibat apa yang telah aku bicarakan sehingga tak sadar aku berucap kebohongan yang mendalam yang telah mengakibatkan banyaknya orang tersia-sia akibat bibir ini. Terbuka hanya karena nafsu duniawi yang memberikan keterangan palsu semata bagi mulut-mulut tak berdosa lainnya.
Sudah tersumbat lubang telingaku sehingga suara-suara gaduh yang mengaduh di luar sana tak sampai terdengar olehku, karena sudah bebal kuping ini, sudah muak kuping ini mendengar pinta-pinta mereka yang tak kunjung berhenti.
Mata ini seakan sudah terkena debu yang tebal yang menjadikan ketidak kelihatannya uluran tangn peminta-minta belas kasihan para tangan tak berdosa, tak ada tetesan air mata yang mengalir dariku sebagai rasa iba, seakan tersumbat pekat dan hilang.
Kenapa dengan kakiku yang tak bisa berjalan di terangnya malam, apakah yang terjadi dengan kedua kaki ini yang seakan-akan berjalan tegap menginjak-injak potongan tubuh akibat dari langkah kakiku yang salah kaprah ini.
Ada apa dengan hidungku terasa enak bersuap makanan walaupun ditengah-tengah sampah mayat manusia tak berdosa ini, lahap mula sambil tersenyum diriku ini, sambil mendendangkan nyanyian sumbang yang entah telah merusak telinga orang yang telah tuli akibat dari suara keledaiku dan janji-janjiku selama ini.
Sekarang aku yakin apa yang telah aku perbuat dahulu kala, di saat itu akupun berjanji memakmurkan semua orang-orang yang wajibku lindungi, dan dengan suara-nya pula aku dapat menikmati sejuknya duduk di singgasana yang menawan untuk saling diperebutkan ini.
Bagiku setelah aku terpilih menjadi Raja yang dengan tanganku pula aku akan meminta imbalan yang tak seimbang dengan pemberianku, dan aku telah menghisap darahnya sampai habis.
Tangan mereka akan berlumuran keringat serta bernodakan tinta merah dari dalam nadinya, serta akan aku berikan mereka seonggok kotoran mereka sendiri untuk dimakan oleh mereka sendiri, itulah aku SI-RAJA LALIM, berhati-hatilah kepadaku agar kalian selamat tunduk serta patuhlah akan aturan-aturan yang salah kaprah dariku.
Cobalah untuk mengerti keadaanku sekarang ini, mata tertutup, bibir terkunci rapat, serta hatipun tak dapat terbuka. Entah apa yang telah aku lakukan sehingga dengan keadaanku sekarang ini menjadikan orang lain pesimis, mungkin inilah tujuan hidupku dan akibat terlalu banyak diriku untuk membutakan hati yang lain.
Sampai kapan ini berakhir, kepayahan otakku yang tak kunjung mereda menjadikan aku seperti ditengah-tengah ketidak berdayaanku hidup di dunia ini.
Layaknya roda yang terus berbutar sehingga menjadikanku payah akibat yang tak tahu ujung pangkalnya.
Mulai kumerenung dalam dunia mayaku, lalu terbersit keinginan untuk berinovasi, namun itu hanya angan-angan yang tak tentu realitasnya.
Kupikirkan dalam-dalam baik serta buruknya, namun tak sampai otakku untuk menjangkaunya yang ada hanya buah pikiran yang tak tentu arah.
Seperti terombang-ambing diriku ini, yang tak tahu kuat seperti batu karang yang kuat dan kokoh walaupun terjangan ombak akan selalu nenerjang.
Rapuh pula tembok hatiku ini terkikis oleh air hujan yang menderaku siang-malam hingga diriku tak mampu kokoh berdiri layaknya bangunan sempurna, sehingga tiba banjir menerjang tak kuasa aku berdiri kokoh sebagai tembok.
Mungkin bibir ini akan tertutup, akibat apa yang telah aku bicarakan sehingga tak sadar aku berucap kebohongan yang mendalam yang telah mengakibatkan banyaknya orang tersia-sia akibat bibir ini. Terbuka hanya karena nafsu duniawi yang memberikan keterangan palsu semata bagi mulut-mulut tak berdosa lainnya.
Sudah tersumbat lubang telingaku sehingga suara-suara gaduh yang mengaduh di luar sana tak sampai terdengar olehku, karena sudah bebal kuping ini, sudah muak kuping ini mendengar pinta-pinta mereka yang tak kunjung berhenti.
Mata ini seakan sudah terkena debu yang tebal yang menjadikan ketidak kelihatannya uluran tangn peminta-minta belas kasihan para tangan tak berdosa, tak ada tetesan air mata yang mengalir dariku sebagai rasa iba, seakan tersumbat pekat dan hilang.
Kenapa dengan kakiku yang tak bisa berjalan di terangnya malam, apakah yang terjadi dengan kedua kaki ini yang seakan-akan berjalan tegap menginjak-injak potongan tubuh akibat dari langkah kakiku yang salah kaprah ini.
Ada apa dengan hidungku terasa enak bersuap makanan walaupun ditengah-tengah sampah mayat manusia tak berdosa ini, lahap mula sambil tersenyum diriku ini, sambil mendendangkan nyanyian sumbang yang entah telah merusak telinga orang yang telah tuli akibat dari suara keledaiku dan janji-janjiku selama ini.
Sekarang aku yakin apa yang telah aku perbuat dahulu kala, di saat itu akupun berjanji memakmurkan semua orang-orang yang wajibku lindungi, dan dengan suara-nya pula aku dapat menikmati sejuknya duduk di singgasana yang menawan untuk saling diperebutkan ini.
Bagiku setelah aku terpilih menjadi Raja yang dengan tanganku pula aku akan meminta imbalan yang tak seimbang dengan pemberianku, dan aku telah menghisap darahnya sampai habis.
Tangan mereka akan berlumuran keringat serta bernodakan tinta merah dari dalam nadinya, serta akan aku berikan mereka seonggok kotoran mereka sendiri untuk dimakan oleh mereka sendiri, itulah aku SI-RAJA LALIM, berhati-hatilah kepadaku agar kalian selamat tunduk serta patuhlah akan aturan-aturan yang salah kaprah dariku.
***APAKAH KITA SAMPAI HATI HIDUP SEPERTI SI-RAJA YANG LALIM TERSEBUT, SEMOGA ALLAH SWT MENJAUHKAN BANGSA KITA DARI SI-RAJA LALIM TERSEBUT, AMIN YA RABBAL ALAMIN.
Sunday, September 13, 2009
JUJUR DAN SETIA BUKAN BERARTI BODOH
rufadi islah
by adi.islah@gmail.com
Alkisah dahulu kala ada sebuah cerita tentang seorang budak, dan majikan. Budak tersebut dari golongan kulit hitam yang tentu saja sangat kuat dan juga menyeramkan raut mukanya, dia sangatlah pendiam dan juga cekatan dalam semua kerjaan yang diperitahkan oleh majikannya yang di beli oleh seorang perkebunan kurma yang sangatlah kaya raya, yang mempunyai beribu-ribu hektar lahan kurma, dan dia juga seorang majikan yang dermawan dan sangat ahli dalam bidang keuangan.
Suatu ketika dia (sang majikan) pergi kepasar guna ada kepentingan menyangkut masalah pekerjaan di perkebunan kurma, karena dia membutuhkan seorang tenaga kerja yang murah dan tentu saja cekatan dalam bekerja. Sehingga dia pergi kepasar untuk membeli seorang budak untuk di jadikan seorang pekerja di perkebunan kurmanya. Dia ingin memilih seorang yang kuat tangkas dan juga tak banyak omong. Dia melihat kesana kemari namun dia tidak menemukan kriteria yang dia ingini, tibalah dia di sebuah pojok pasar yang sudah jauh dari keramaian, dan dia menemukan sesosok orang hitam legam dan juga sangat dekil.
“Wah,…….. ini seorang budak yang kucari untuk mengurus perkebunan kurmaku”, pikir dalam hati sang majikan.
“Berapa kamu jual budak ini pak?” tanyanya pada seorang penjual budak yang gemuk dan juga beraut muka mengerikan.
“Ahhhh,……murah saja kan ku jual budak ini, lagian sudah berhari-hari tidak ada seorangpun yang mau membeli, mungkin karena takut”, jelas sie-penjual budak kepada sang majikan.
“Kalau begitu saya saja yang membelinya,…ini uangku kau ambil semua”, jelas sang majikan kepada penjual budak.
“Banyak sekali,…ini lebih dari cukup, sudah kau ambil saja budak jelek ini”, paksa penjual budak tersebut.
“Baiklah kalau begitu,…. Wahai kau budak ikut aku saja,…….insyaallah hidup kau tak akan kekurangan, akan ku jadikan kau budak yang mendapatkan semua hak-hakmu”, jelas sang majikan kepada budak tersebut.
Budak itu tidak menjawab hanya mengangguk saja mungkin karena sudah menjadi kebiasaannya untuk selalu patuh dan taat kepada majikan-majikannya.
Alhasil budak tersebut berhasil di belinya dengan harga yang sangat murah sekali. Sehingga orang tersebut sangat senang sekali pulang dengan membawa seorang budak belian yang punya tenaga yang kuat dan juga berharga murah sekali.
Setelah sampai di perkebunan, sang majikan memberikan semua perintah mulai dari kewajibannya untuk mengangkut keranjang-keranjang sampai kepada hak-haknya untuk mendapat beberapa jatah makan untuk perharinya.
“Kau sudah paham dengan segala kewajibanmu dan juga hak-hakmu”, jelas sang majikan.
Begitu juga dengan budak tersebut hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja, tanda dia telah setuju dan juga paham segala perintah majikannya tersebut.
Setelah itu budak tersebut di perintahkan untuk mengangkut barang-barang berupa keranjang-keranjang buah kurma yang diangkut dari perkebunan sampai ke kendaraan, pada waktu itu sebuah kendaraan adalah hanya keledai dan onta saja.
Dia sangat cekatan, kuat dan juga tidak mengecewakan, tibalah saat-saat dimana sang majikan terheran-heran dengan pekerjaannya, karena dia membeli seorang budak yang sangat murah sekali namun dia bekerja sangat cekatan dan juga tak banyak bicara maupun mengeluh, sehingga sang majikan sangat puas dengan hasil pekerjaannya.
Setelah beberapa tahun berlalu, tiba-tiba ada seorang mandor yang sakit sehingga mau tak mau sang majikan harus mengganti sementara jabatan mandor kepada orang lain, terlintas pikirannya pada sesosok budak yang hitam legam namun cekatan itu, karena pikir sang majikan sudah tentu dia lebih berpengalaman dan juga sangat cekatan dalam bekerja.
“Hei kau,…………. Budak dekil kesini,………………” pinta sang majikan
“Kamu kan tahu mandor sedang sakit kemungkinan satu minggu ini tidak ada yang mengawasi perkebunan ini, kau saja yang harus jadi mondor menggantikan mandor yang sakit itu, dan tugas kamu memilih kurma mana yang baik dan juga layak untuk di jual di pasar, “ perintah sang majikan.
“Jawablah sekali-kali ketika aku bertanya kepadamu jangan hanya kamu mengangguk-angukkan kepalamu, kamu ini juga manusia layaknya aku, bicaralah walau hanya sedikit,” Pinta sang majikan.
“ii…ya Tuanku,” balas budak tersebut dengan badan gemetar karena bukan kebiasaanya untuk membalas kata dari majikan.
“Begitu lebih baik, janganlah kamu selalu membisu,” jelas sang majikan.
“Sudah sana kau urus itu kurma-kurma yang nanti mau di jual,” perintah sang majikan.
Namun apa yang di perintahkan oleh majikannya itu tidaklah mulus yang di perbuat waktu mengangkut keranjang-keranjang kurma. Semua hasilnya tidak memuaskan, banyak buah kurma yang masih hijau di petiknya, sehingga tidak akan ada seorang pembeli yang membelinya.
“He,………kau budak dekil sini kau,….mengapa jualanku hari ini tidak mendapat untung malah rugi banyak, bodoh sekali kau masak kamu tidak tahu mana buah yang layak di jual dan yang belum layak untuk dijual, semua buah kau ambil ada yang masak dan belum masak kau jadikan satu, rugi besar hari ini daganganku…….he jangan diam, kubunuh kau,..bicaralah!!!”, marah sang majikan.
“Maaf tuanku aku tidak tahu buah kurma yang telah masak dan siap di jual dan juga yang belum masak,…aku tidak tahu akan hal itu,………….,” jawab budak.
“Masak kau tidak tahu akan buah kurma yang telah masak dan belum, kau kan sudah bekerja bertahun-tahun di perkebunan ini,” Gertak sang majikan.
“Ampun Tuanku,…… benar hamba tidak tahu, karena tugas hamba dulu itu hanya di suruh mengangkut keranjang kurma saja, saya tak pernah memakan buah kurma tersebut sedikitpun sehingga hamba tidak tahu mana buah yang telah masak dan belum masak,…ampun Tuanku!!!” pinta budak dengan suara memelas.
Mendengar penjelasan dari budak tersebut, sang majikan sampai terharu mendengarnya, dan dia merasa ikut bersalah juga, karena dia dulu memberikan tugas kepada budak ini hanya untuk mengangkut keranjang-keranjang kurma tersebut.
“Ohhh,…………..begitu rupanya yang terjadi, aku sampai terharu mendengar penjelasanmu itu wahai budakku,………. Ternyata hari ini aku telah salah memarahimu, karena kamu belum tahu buah mana yang masak dan yang belum masak,………” Jelas sang majikan terharu.
“Kamu adalah budak yang baik, dan juga jujur, bahkan setia tidak penah menyalahi tugas-tugasmu,……..sekarang aku baru sadar bahwa kau ini pemuda yang rajin bekerja,…sekarang aku pinta kamu membantuku dan juga menjadi orang kepercayaanku akan aku merdekakan kamu sekarang juga,…..” tegas sang majikan.
Menagislah budak tersebut dan berucap “Terimakasih ya Allah SWT Engkau kabulkan do’aku selama ini,……………… “ ucap budak yang telah di merdekakan oleh sang majikannya karena kesetiaannya dan juga karena kejujurannya selama ini. Sehingga dia seorang budak yang telah merdeka sujud syukur atas terkabulnya do’anya.
Dari cerita yang aku sendiri juga lupa dari mana serta dari sumber buku apa kurang jelas, ini merupakan pengembangan dari narasiku, entah kejadian ini nyata atau tidak, aku kurang tahu,…………. Apabila ada narasi yang kurang tepat mohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga cerita ini memberikan ilmu kepada teman-teman semuanya, jangan pernah menyalahi tugas, apalagi yang bekeja dalam naungan Dinas Pemerintahan, karena yang diamanatkan adalah kepentingan umum.
Saturday, August 29, 2009
SECANGKIR KOPI PAHIT
by rufadi islah
adi.islah@gmail.com
Cerita tentang alim ulama yang mahir dalam berjudi karena dulunya mantan penjudi kelas kakap.
Aku juga seorang penjudi namun tidak suka mabuk, dan judi adalah hobiku sampai-sampai aku tak rela meninggalkan perbuatan itu, namun kata orang maksiat on sholatpun on, itu dulu sekarang akupun tersadar atas perilakuku yang aniaya diri ini.
Suatu ketika aku diajak oleh seorang tetangga rumahku, ternyata aku diajak tak lebih adalah main judi dan mabukpun jadi hidangannya.
Mereka sangat sopan denganku dan merekapun memberikan sebuah tempat yang khusus buatku, dan memberikan segepok uang yang kata mereka sebagai uang hutang, kupikir tidak apa-apa toh kemungkinan menang itu pasti ada.
Ternyata ALLAH SWT memberiku rezeki yang banyak berupa kemenangan yang tidak pernah kalah, sekalipun tidak pernah kalah.
Mereka terheran-heran dengan kemenanganku, sampai-sampai mereka semua pada tidak percaya, hingga akhirnya salah satu dari mereka berani bertanya kepadaku,
“Jurus apa yang anda gunakan kok selalu menang”, tanya mereka.
“Sederhana, jurusnya mudah sekali, sederhana, dan tak repot-repot amat, dan harus dilakukan dengan hati yang bersih, mau belajar”, jawabku.
Mereka terheran-heran dengan kata-kataku, saking senangnya mendengar tips dariku, mereka kompak untuk mempelajari hal apakah yang membuat dariku selalu membuatku menang.
Kusuruh mereka untuk berjanji untuk selalu yakin dan percaya sama saya, sehingga mudah untukku menularkan sebuah ilmu untuk mereka.
Mereka sudah yakin 100%, dan mudah bagiku untuk memberikan sebuah langkah-langkah yang telah aku siapkan dari rumah sebelumnya.
Kuminta mereka untuk yakin, kalau tidak yakin harap pulang saja. ternyata mereka yakin semua,
“Alhamdulillah,” ucap dalam batin hatiku.
Pertama mari kita pergi dari ruangan yang kotor dan payah ini, dan mereka pun menuruti permintanku ini, kita tinggalkan botol yang berserakan ini.
Kedua, tolong ambilkan aku satu atau lebih ember air yang bersih, jernih, dan tidak najis. Tolong taruh di atas dan bagian bawah embernya dilubangi, dan mereka pun menuruti permintaanku juga, tanpa bertanya sedikitpun.
Kuminta mereka untuk menuruti segala apa yang aku perbuat, dari mulai membasuh kedua muka sampai membasuh kedua kaki, dengan alasan biar ilmu itu tidak sulit untuk di pelajari, merekapun menuruti semua langkah-langkah yang aku ajarkan sebelumnya.
Setelah itu kita menghadap kiblat guna meminta kepada ALLAH SWT supaya ilmu itu tidak ada ganguan sedikitpun, mereka mulai terheran-heran dengan permintaan yang satu ini, dan kuyakinkan kepada mereka, kalau tidak mau mahir dalam berjudi silahkan pulang saja, dengan tutur halusku.
Akhirnya mereka ikut juga dengan permintaanku itu, sampai pada takhiat akhir, dengan dua rakaat, berupa sholat taubat.
“Akhirnya sudah selesai kutularkan ilmu itu kepada kalian semuanya, sekarang kalian sudah mahir, aku sudah memberikan semua kecuali satu prakataku yang terakhir sebelum kalian berjudi lagi,” jelasku pada semua orang.
“Prakata apa yang ingin kauucapkan, cepat ini sudah tidak sabar aku mau main judi lagi,” salah satu orang bicara lantang.
“Aku memberikan prasyarat lagi, jangan ada yang berisik, dan tolong diam semuanya, silahkan untuk kalian yang mau menangis bebas untuk kalian lakukan, tapi jangan berisik,” Pintaku tegas.
“Ayo cepat sudah tidak sabar aku,” pinta salah satu orang.
“Kujelaskan tentang apa yang telah kita lakukan, kita telah melakukan shalat taubat, yang berarti shalat sunnat yang dilakukan seorang muslim saat ingin bertobat terhadap kesalahan yang pernah ia lakukan. Shalat taubat dilaksanakan dua raka’at.
Dari Ali bin Abi Thalib r.a ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam bersabda: ‘Tidaklah seseorang melakukan dosa kemudian ia bersuci (berwudhu) dan shalat lalu minta ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya itu, beliau lalu membacakan firman Allah (QS. Ali Imran 135).’” (HR. at-Tirmidzi, Abi Dawud dan dihasankan oleh al-Albani)
sekarang aku bertanya apakah kalian sudah tidak mempunyai hati bersih untuk berpikir bahwa apa yang kalian lakukan adalah merugikan bagi diri sendiri yang menyia-yiakan waktu bekerja hanya untuk berjudi dan mabuk-mabukan, sehingga membuat keluarga kalian terlantar, istri tidak bisa berbelanja akibatnya anak kalian tidak bisa makan serta pembayaran SPP buat sekolah merekapun kalian ambil, camkan untuk semua yang hadir disini, apakah kalian sudah tidak mempunyai hati untuk berlaku yang baik kepada masyarakat, berapa banyak orang kehilangan gara-gara kalian sering mencuri barang milik mereka sebagai bahan taruhan, kasihan mereka beternak beberapa bulan setelah besar kalain buat pesta poro, coba kalian ingat itu, apakah kalian sudah berani mati terus menjumpai neraka, apakah kalian kuat dengan api neraka yang menyala abadi itu, mungkin kalian ingin pergi kesana, silahkan bagi kalian teruskan untuk selalu berjudi, selalu mencuri baik itu uang keluarga maupun harta masyaraat,” jelasku tegas.
Salah satu orang merasa bahwa dirinya bersalah maka meledaklah tangisan mereka satu persatu, dan tak sanggup mereka berkata-kata lagi.
Tadi kalian sudah shalat dua rakaat yang bernama shalat taubah, yang insyaallah ada kegunaannya antara lain: kalian harus (1). berhenti dari kesalahan atau dosa yang telah diperbuat. Syarat pertama ini akan terwujud dengan sikap tegas kita dalam usaha untuk tidak mengulangi kesalahan atau dosa yang telah diperbuat. Masih memberikan toleransi atau berhubungan dengan kemaksiatan berarti sikap mendua yang pada akhirnya akan memberikan jalan bagi setan untuk kesekian kalinya kita terjerumus. Lingkungan pergaulan akan sangat berperan dalam memberikan arti keberhasilan seseorang untuk bertaubat. (2) menyesali atas perbuatan yang telah dilakukan baik lisan maupun hati sesuai dengan firman Allah, “Keduanya berkata: “Ya Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”.(QS. Al-A’raf : 23). Tidak menangguhkan taubat adalah salah satu bentuk dari aplikasi penyesalan. (3) niat bersungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan salah dan dosa lagi. Niat inilah diantara cirri-ciri yang terdapat pada seseorang yang serius untuk kembali ke jalan-Nya. Ha itu akan membuat kita akan terjaga dari kejatuhan kembali di tempat yang sama. (4) menyelesaikan urusan dengan orang yang pernah dizhalimi. Syarat ini apabila kesalahan dan dosa yang dilakukan menyangkut hak dan kehormatan orang lain. Misalnya jika kita telah mengambil barang orang lain, kita harus segera mengembalikannya. Atau, bila kita telah merendahkan, menghina atau menyakiti seseorang tentunya harus segera meminta maaf.
Camkan itu untuk semua orang yang hadir disini, dan maafku bila terlalu kasar kepada kalian semua, terserah kalian mau berjudi lagi atau tidak terserah kalian, aku cuma bisa berdo’a semoga kalian di beri hidayah oleh ALLAH SWT, di bukakan pintu hati kalian, terbuka terhadap kebenaran islam.
Sekarang pulanglah minta maaf kepada kedua orang tuamu yang masih hidup serta keluarga serta anakmu, dan juga meminta maaflah kalian kepada penduduk yang telah kalian aniaya.
*cerita dari salah satu yang pernah kubaca (namun aku lupa dari buku apa, dan sumber-sumber situs islam lainnya): (1).http://istiqom4h.wordpress.com/2008/10/17/shalat-taubat/ (2) http://id.wikipedia.org/wiki/Shalat_Taubat.
**terimakasihku untuk berbagi ilmu dan mohon maaf kalau ada kesalahan redaksi dariku.
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)



