Ada novel yang kita baca untuk mengikuti jalan ceritanya.
Ada pula novel yang membuat kita berhenti beberapa kali,
mengernyitkan dahi, kemudian berkata dalam hati,
“Ini sebenarnya cerita macam apa?”
Tetapi justru karena itulah kita terus membacanya.
Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan bagi saya adalah novel seperti itu.


