Friday, November 6, 2026

Rumah – J.S. Khairen: Ketika Rumah Menjadi Tempat Menyimpan Luka dan Dendam

 


Data Buku

  • Judul: Rumah
  • Penulis: J.S. Khairen
  • Penerbit: Elex Media Komputindo
  • Tebal: 368 halaman
  • ISBN: 9786230074646
  • Genre: Fiksi, drama keluarga, psikologi, dan perjalanan kehidupan

Ada Rumah yang Ingin Kita Tinggalkan

Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak mudah kita pahami, terutama ketika berbicara tentang keluarga. Kita sering menganggap rumah sebagai tempat paling aman untuk kembali. Tempat beristirahat setelah lelah bekerja, tempat berbagi cerita, tempat seseorang mendapatkan kasih sayang dan perlindungan.

Namun, benarkah setiap rumah memberikan rasa aman?

Bagaimana jika rumah justru menjadi tempat seseorang mendapatkan luka? Bagaimana jika orang-orang yang seharusnya memberikan kasih sayang malah menjadi sumber ketakutan, kekecewaan, bahkan kebencian?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul ketika saya membaca novel Rumah karya J.S. Khairen.

Awalnya saya mengira novel ini akan membawa kita pada kisah keluarga yang biasa saja. Ada konflik, ada pertengkaran, kemudian semuanya berakhir dengan saling memaafkan. Sebuah pola yang cukup sering kita temukan dalam cerita bertema keluarga.

Ternyata tidak sesederhana itu.

Saya menikmati alurnya karena tidak mudah menebak ke mana cerita akan dibawa. Ada kejadian-kejadian yang membuat saya ingin terus membuka halaman berikutnya. Bahkan ketika merasa sudah memahami arah ceritanya, masih ada bagian yang membuat saya kembali berpikir.

J.S. Khairen cukup berhasil membuat pembaca mengikuti perjalanan seorang perempuan yang dari luar terlihat memiliki kehidupan baik-baik saja, tetapi menyimpan begitu banyak persoalan di dalam dirinya.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Ria, seorang perempuan yang bekerja sebagai luxury travel planner. Pekerjaannya membawanya menjelajahi berbagai tempat di dunia, mengatur perjalanan mewah bagi para kliennya.

Ironisnya, seseorang yang pekerjaannya mengantarkan orang lain menikmati perjalanan ke berbagai tempat justru belum menemukan tempat yang benar-benar bisa disebut rumah bagi dirinya sendiri.

Ia bisa pergi ke mana saja, tetapi tidak selalu memiliki alasan untuk pulang.

Dan di situlah cerita ini mulai terasa dekat dengan kehidupan manusia.

Ria dan Luka yang Tidak Sederhana

Bagi saya, kekuatan novel ini terletak pada penggambaran karakter utamanya.

Ria bukan tokoh yang mudah ditebak. Ia bukan perempuan yang selalu terlihat rapuh, bukan pula sosok yang terus-menerus menunjukkan kemarahannya kepada dunia.

Ada sesuatu yang ia simpan.

Masa kecilnya tidak memberikan kenangan rumah yang menyenangkan. Hubungan dengan ibunya dipenuhi tekanan dan cercaan, sementara ayahnya juga meninggalkan luka melalui sikap dan persoalan keluarga yang terjadi di belakangnya.

Ada pengalaman ketika Ria harus menerima kenyataan bahwa ayahnya memiliki anak dari perempuan lain.

Bayangkan bagaimana perasaan seorang anak ketika mengetahui bahwa keluarga yang selama ini dianggap sebagai dunianya ternyata tidak sesederhana yang ia bayangkan.

Luka seperti itu tidak selalu terlihat dari wajah seseorang.

Ada orang yang menangis ketika terluka. Ada pula yang memilih diam, melanjutkan kehidupan, bekerja, beraktivitas, bahkan terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.

Namun, bukan berarti luka itu telah selesai.

Kadang-kadang seseorang hanya belajar menyimpan rasa sakitnya agar tetap mampu menjalani hari esok.

Saya melihat sisi tersebut dalam diri Ria.

Ia membawa masa lalu yang tidak menyenangkan, tetapi kehidupan terus memaksanya untuk berjalan. Ia harus menghadapi pekerjaan, lingkungan sosial, dan berbagai keadaan yang tidak selalu mudah.

Di sinilah karakter Ria terasa begitu manusiawi.

Tidak semua orang yang terluka akan menjadi pribadi yang buruk. Tidak semua orang yang menyimpan dendam akan kehilangan kemampuan untuk berbuat baik.

Ada kalanya seseorang justru berusaha menjadi lebih baik karena ia tahu betapa tidak menyenangkannya diperlakukan dengan buruk.

Dendam: Apakah Selalu Berarti Kebencian?

Ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika membaca perjalanan Ria, yaitu persoalan dendam.

Kita sering diajarkan bahwa dendam adalah sesuatu yang buruk. Dendam identik dengan keinginan membalas, menyakiti, atau membuat orang lain merasakan penderitaan yang sama.

Tetapi apakah semua orang yang menyimpan dendam pasti ingin melakukan hal demikian?

Saya kira tidak sesederhana itu.

Dalam kehidupan, ada orang yang menyimpan kekecewaan begitu dalam, tetapi tidak pernah berniat melakukan kejahatan kepada orang yang telah menyakitinya.

Ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya mampu menjalani kehidupan tanpa harus menjadi seperti orang-orang yang pernah melukainya.

Bagi saya, di sinilah sisi menarik dari karakter Ria.

Ia mempunyai alasan untuk marah. Ia memiliki pengalaman yang membuatnya kecewa kepada keluarganya. Namun, pengalaman tersebut tidak serta-merta menjadikan dirinya manusia yang kehilangan kebaikan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa dendam merupakan sesuatu yang harus dipelihara. Sebab, jika dibiarkan terus tumbuh, dendam juga bisa menjadi beban yang menghabiskan energi dan ketenangan seseorang.

Tetapi ada perbedaan antara mengingat luka dan menjadikan luka sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.

Barangkali kedewasaan justru dimulai ketika seseorang mampu mengatakan:

Saya tahu apa yang telah kalian lakukan kepada saya. Saya tidak melupakannya begitu saja. Namun, saya tidak ingin hidup dengan cara yang sama seperti kalian.

Bagi saya, pemikiran seperti inilah yang membuat perjalanan Ria menarik untuk direnungkan.

Perempuan, Pekerjaan, dan Dunia yang Tidak Selalu Ramah

Hal lain yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana Ria menjalani kehidupannya sebagai perempuan yang bekerja dalam lingkungan profesional yang penuh tuntutan.

Pekerjaannya sebagai luxury travel planner mengharuskannya berhadapan dengan berbagai karakter manusia, kebutuhan klien, serta situasi yang tidak selalu bisa dikendalikan.

Dunia pekerjaan tidak selalu memberikan ruang bagi seseorang untuk menunjukkan kelemahannya.

Ada target yang harus dicapai, tanggung jawab yang harus diselesaikan, dan orang-orang yang harus dihadapi.

Seseorang bisa saja sedang memiliki persoalan keluarga yang sangat berat, tetapi pada pagi harinya tetap harus datang bekerja, tersenyum, berbicara dengan orang lain, dan menyelesaikan tugasnya.

Kehidupan memang sering seperti itu.

Dunia tidak selalu berhenti hanya karena hati seseorang sedang berantakan.

Saya menyukai gambaran bahwa Ria tetap berusaha menjalani pekerjaannya dan mempertahankan dirinya di tengah berbagai persoalan. Ia tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam keluarganya, tetapi ia masih memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana dirinya menjalani kehidupan.

Di sini saya melihat bahwa kekuatan seseorang bukan selalu terletak pada kemampuannya melawan orang lain.

Terkadang kekuatan justru terlihat dari kemampuannya menjaga diri agar tidak ikut menjadi buruk meskipun pernah diperlakukan dengan buruk.

Rumah Bukan Sekadar Bangunan

Judul novel ini sebenarnya sangat sederhana, hanya satu kata: Rumah.

Namun, setelah membaca ceritanya, saya merasa kata tersebut memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar bangunan dengan pintu, jendela, kamar tidur, dan ruang keluarga.

Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang merasa diterima.

Tempat ketika seseorang tidak perlu berpura-pura kuat. Tempat ketika kesalahan masih bisa dibicarakan, kesedihan bisa disampaikan, dan perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan pertengkaran.

Tetapi kenyataannya, tidak semua orang mendapatkan pengalaman seperti itu.

Ada rumah yang secara fisik lengkap, tetapi penghuninya tidak pernah benar-benar saling memahami.

Ada keluarga yang tinggal di bawah satu atap, tetapi tidak memiliki percakapan yang mendalam.

Ada pula anak-anak yang tumbuh dengan membawa kenangan buruk karena orang dewasa di sekitarnya tidak mampu memberikan lingkungan yang sehat.

Dari novel ini saya kembali berpikir bahwa menjadi orang tua bukan hanya tentang menyediakan makanan, pakaian, pendidikan, dan tempat tinggal.

Ada tanggung jawab lain yang tidak kalah penting, yaitu menciptakan rasa aman.

Anak-anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat orang tuanya. Namun, pengalaman tentang bagaimana mereka diperlakukan di rumah bisa melekat sangat lama dalam ingatan.

Dan ketika mereka dewasa, pengalaman tersebut mungkin ikut membentuk cara mereka memandang kehidupan, hubungan, bahkan keluarga yang kelak mereka bangun sendiri.

Karena itu, rumah seharusnya bukan tempat seseorang belajar ketakutan.

Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang belajar mencintai.

Memaafkan Tidak Selalu Mudah

Salah satu persoalan paling rumit dalam kehidupan adalah memaafkan orang yang pernah menyakiti kita.

Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa semua orang harus saling memaafkan. Tetapi ketika berada dalam posisi seseorang yang pernah mengalami luka mendalam, persoalannya tentu berbeda.

Memaafkan bukan perkara mengucapkan satu kalimat kemudian semua kenangan buruk menghilang.

Ada pengalaman yang membutuhkan waktu panjang untuk diterima.

Ada hubungan yang tidak bisa kembali seperti semula.

Ada pula orang yang mungkin tidak pernah benar-benar memahami seberapa besar luka yang telah mereka berikan kepada orang lain.

Perjalanan Ria mengajak pembaca melihat bahwa berdamai dengan masa lalu bukan sesuatu yang sederhana.

Menurut saya, memaafkan juga tidak selalu berarti membenarkan perbuatan orang yang telah menyakiti kita.

Kita tetap bisa mengakui bahwa sesuatu yang pernah dilakukan seseorang adalah salah. Kita juga tetap boleh menjaga jarak dari hubungan yang tidak sehat.

Namun, jangan sampai seluruh kehidupan kita hanya berputar pada peristiwa masa lalu.

Sebab, jika terus-menerus hidup dalam kemarahan, bukankah orang yang pernah menyakiti kita masih memiliki tempat yang terlalu besar dalam kehidupan kita?

Barangkali salah satu bentuk kebebasan adalah ketika kita tidak lagi membiarkan masa lalu menentukan seluruh kebahagiaan hari ini.

Mengapa Alur Novel Rumah Menarik?

Saya pribadi menikmati cara J.S. Khairen membangun cerita ini.

Novel bertema keluarga sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Konflik antara anak dan orang tua, persoalan rumah tangga, luka masa kecil, hingga upaya memaafkan sudah sering menjadi tema dalam karya sastra.

Namun, yang membuat Rumah menarik adalah perjalanan ceritanya.

Saya tidak merasa sedang membaca sebuah cerita yang hanya ingin segera membawa tokohnya menuju penyelesaian masalah.

Ada perkembangan karakter, peristiwa, dan pengalaman yang membuat kita perlahan memahami mengapa seseorang bisa memiliki sikap tertentu.

Alurnya juga tidak mudah ditebak.

Ketika membaca novel, saya menyukai cerita yang tidak terlalu cepat memberikan semua jawaban. Ada ruang untuk bertanya, menduga, dan kemudian menemukan bahwa ternyata ada hal lain yang belum kita pahami.

J.S. Khairen berhasil membuat saya menikmati proses tersebut.

Selain itu, karakter-karakter yang hadir terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka bukan manusia sempurna yang selalu mengambil keputusan benar.

Mereka memiliki kelemahan, ego, kepentingan, dan persoalan masing-masing.

Bukankah memang demikian kehidupan?

Tidak ada keluarga yang seluruh anggotanya selalu benar. Tidak ada manusia yang seluruh tindakannya selalu dapat dibenarkan.

Tetapi justru dari berbagai ketidaksempurnaan itulah kita bisa belajar memahami manusia.

Setelah Membaca Rumah, Apa yang Tersisa?

Setelah menyelesaikan novel ini, saya kembali memikirkan satu hal sederhana.

Kita sering begitu sibuk membangun rumah, tetapi terkadang lupa membangun hubungan di dalamnya.

Kita mengejar pekerjaan, pendidikan, penghasilan, dan berbagai hal yang dianggap penting untuk masa depan keluarga. Semua itu memang diperlukan.

Namun, apakah orang-orang yang tinggal bersama kita merasa bahagia?

Apakah mereka merasa didengar?

Apakah mereka merasa aman untuk menceritakan kesedihan dan kesalahannya?

Atau jangan-jangan rumah yang kita bangun justru menjadi tempat seseorang menyimpan luka yang kelak dibawanya sampai dewasa?

Saya kira pertanyaan tersebut layak direnungkan.

Ada banyak orang yang mampu membeli rumah besar, tetapi belum tentu mampu menciptakan suasana rumah yang hangat.

Ada pula orang yang hidup dalam rumah sederhana, tetapi di dalamnya terdapat kasih sayang yang membuat setiap penghuninya merasa cukup.

Pada akhirnya, rumah bukan hanya tentang ke mana kita pulang.

Rumah juga tentang siapa yang membuat kita merasa diterima ketika kembali.

Dan mungkin, bagi sebagian orang, perjalanan terpanjang dalam hidup bukanlah perjalanan mengelilingi dunia, melainkan perjalanan menemukan kedamaian di dalam dirinya sendiri.

Kesimpulan: Jangan Sampai Luka Membuat Kita Menjadi Sama

Apakah saya merekomendasikan novel Rumah karya J.S. Khairen?

Ya.

Terutama bagi pembaca yang menyukai novel dengan tema keluarga, konflik psikologis, perjalanan kehidupan, dan hubungan antarmanusia.

Saya menikmati alurnya yang tidak mudah ditebak serta penggambaran karakter yang terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Novel ini juga mengingatkan saya bahwa manusia tidak selalu bisa memilih bagaimana masa kecilnya berlangsung. Tidak semua orang mendapatkan keluarga yang ideal. Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang memberikan rasa aman.

Namun, ketika dewasa, kita memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana memperlakukan orang lain.

Kita bisa memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan kepada kita.

Kita bisa memilih untuk tidak menjadikan luka sebagai alasan menyakiti orang lain.

Dan kita bisa belajar membangun rumah yang berbeda dari rumah yang pernah membuat kita terluka.

Bagi saya, salah satu pesan yang paling berharga dari perjalanan Ria adalah bahwa seseorang tidak harus menjadi buruk hanya karena pernah diperlakukan dengan buruk.

Kita boleh mengingat luka, tetapi jangan sampai seluruh hidup kita menjadi tawanan luka tersebut.

Sebab, pada akhirnya, hidup terlalu singkat jika hanya digunakan untuk memelihara kebencian.

Jangan sampai orang-orang yang pernah menyakiti kita berhasil mengubah kita menjadi manusia yang sama seperti mereka.

Mungkin itulah salah satu cara terbaik untuk berdamai dengan masa lalu.

Dan mungkin pula, di situlah kita mulai menemukan arti sebuah rumah.



Comments :

0 comments to “ Rumah – J.S. Khairen: Ketika Rumah Menjadi Tempat Menyimpan Luka dan Dendam ”


Post a Comment

Thanks for Your Comment!