Data Buku
- Judul: Rumah
- Penulis: J.S. Khairen
- Penerbit: Elex Media Komputindo
- Tebal: 368 halaman
- ISBN: 9786230074646
- Genre: Fiksi, drama keluarga,
psikologi, dan perjalanan kehidupan
Ada Rumah yang Ingin Kita Tinggalkan
Ada banyak hal dalam kehidupan yang tidak mudah kita
pahami, terutama ketika berbicara tentang keluarga. Kita sering menganggap
rumah sebagai tempat paling aman untuk kembali. Tempat beristirahat setelah
lelah bekerja, tempat berbagi cerita, tempat seseorang mendapatkan kasih sayang
dan perlindungan.
Namun, benarkah setiap rumah memberikan rasa aman?
Bagaimana jika rumah justru menjadi tempat seseorang
mendapatkan luka? Bagaimana jika orang-orang yang seharusnya memberikan kasih
sayang malah menjadi sumber ketakutan, kekecewaan, bahkan kebencian?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang muncul
ketika saya membaca novel Rumah karya J.S. Khairen.
Awalnya saya mengira novel ini akan membawa kita pada
kisah keluarga yang biasa saja. Ada konflik, ada pertengkaran, kemudian
semuanya berakhir dengan saling memaafkan. Sebuah pola yang cukup sering kita
temukan dalam cerita bertema keluarga.
Ternyata tidak sesederhana itu.
Saya menikmati alurnya karena tidak mudah menebak ke
mana cerita akan dibawa. Ada kejadian-kejadian yang membuat saya ingin terus
membuka halaman berikutnya. Bahkan ketika merasa sudah memahami arah ceritanya,
masih ada bagian yang membuat saya kembali berpikir.
J.S. Khairen cukup berhasil membuat pembaca mengikuti
perjalanan seorang perempuan yang dari luar terlihat memiliki kehidupan
baik-baik saja, tetapi menyimpan begitu banyak persoalan di dalam dirinya.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Ria, seorang
perempuan yang bekerja sebagai luxury travel planner. Pekerjaannya
membawanya menjelajahi berbagai tempat di dunia, mengatur perjalanan mewah bagi
para kliennya.
Ironisnya, seseorang yang pekerjaannya mengantarkan
orang lain menikmati perjalanan ke berbagai tempat justru belum menemukan
tempat yang benar-benar bisa disebut rumah bagi dirinya sendiri.
Ia bisa pergi ke mana saja, tetapi tidak selalu
memiliki alasan untuk pulang.
Dan di situlah cerita ini mulai terasa dekat dengan kehidupan
manusia.
Ria dan Luka yang Tidak Sederhana
Bagi saya, kekuatan novel ini terletak pada
penggambaran karakter utamanya.
Ria bukan tokoh yang mudah ditebak. Ia bukan perempuan
yang selalu terlihat rapuh, bukan pula sosok yang terus-menerus menunjukkan
kemarahannya kepada dunia.
Ada sesuatu yang ia simpan.
Masa kecilnya tidak memberikan kenangan rumah yang
menyenangkan. Hubungan dengan ibunya dipenuhi tekanan dan cercaan, sementara
ayahnya juga meninggalkan luka melalui sikap dan persoalan keluarga yang
terjadi di belakangnya.
Ada pengalaman ketika Ria harus menerima kenyataan
bahwa ayahnya memiliki anak dari perempuan lain.
Bayangkan bagaimana perasaan seorang anak ketika
mengetahui bahwa keluarga yang selama ini dianggap sebagai dunianya ternyata
tidak sesederhana yang ia bayangkan.
Luka seperti itu tidak selalu terlihat dari wajah
seseorang.
Ada orang yang menangis ketika terluka. Ada pula yang
memilih diam, melanjutkan kehidupan, bekerja, beraktivitas, bahkan terlihat
baik-baik saja di hadapan orang lain.
Namun, bukan berarti luka itu telah selesai.
Kadang-kadang seseorang hanya belajar menyimpan rasa
sakitnya agar tetap mampu menjalani hari esok.
Saya melihat sisi tersebut dalam diri Ria.
Ia membawa masa lalu yang tidak menyenangkan, tetapi
kehidupan terus memaksanya untuk berjalan. Ia harus menghadapi pekerjaan,
lingkungan sosial, dan berbagai keadaan yang tidak selalu mudah.
Di sinilah karakter Ria terasa begitu manusiawi.
Tidak semua orang yang terluka akan menjadi pribadi
yang buruk. Tidak semua orang yang menyimpan dendam akan kehilangan kemampuan
untuk berbuat baik.
Ada kalanya seseorang justru berusaha menjadi lebih
baik karena ia tahu betapa tidak menyenangkannya diperlakukan dengan buruk.
Dendam: Apakah Selalu Berarti
Kebencian?
Ada satu hal yang menarik perhatian saya ketika
membaca perjalanan Ria, yaitu persoalan dendam.
Kita sering diajarkan bahwa dendam adalah sesuatu yang
buruk. Dendam identik dengan keinginan membalas, menyakiti, atau membuat orang
lain merasakan penderitaan yang sama.
Tetapi apakah semua orang yang menyimpan dendam pasti
ingin melakukan hal demikian?
Saya kira tidak sesederhana itu.
Dalam kehidupan, ada orang yang menyimpan kekecewaan
begitu dalam, tetapi tidak pernah berniat melakukan kejahatan kepada orang yang
telah menyakitinya.
Ia hanya ingin membuktikan bahwa dirinya mampu
menjalani kehidupan tanpa harus menjadi seperti orang-orang yang pernah
melukainya.
Bagi saya, di sinilah sisi menarik dari karakter Ria.
Ia mempunyai alasan untuk marah. Ia memiliki
pengalaman yang membuatnya kecewa kepada keluarganya. Namun, pengalaman
tersebut tidak serta-merta menjadikan dirinya manusia yang kehilangan kebaikan.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa dendam merupakan
sesuatu yang harus dipelihara. Sebab, jika dibiarkan terus tumbuh, dendam juga
bisa menjadi beban yang menghabiskan energi dan ketenangan seseorang.
Tetapi ada perbedaan antara mengingat luka dan
menjadikan luka sebagai alasan untuk menyakiti orang lain.
Barangkali kedewasaan justru dimulai ketika seseorang
mampu mengatakan:
Saya tahu apa yang telah kalian lakukan kepada saya.
Saya tidak melupakannya begitu saja. Namun, saya tidak ingin hidup dengan cara
yang sama seperti kalian.
Bagi saya, pemikiran seperti inilah yang membuat
perjalanan Ria menarik untuk direnungkan.
Perempuan, Pekerjaan, dan Dunia yang
Tidak Selalu Ramah
Hal lain yang membuat novel ini menarik adalah
bagaimana Ria menjalani kehidupannya sebagai perempuan yang bekerja dalam lingkungan
profesional yang penuh tuntutan.
Pekerjaannya sebagai luxury travel planner
mengharuskannya berhadapan dengan berbagai karakter manusia, kebutuhan klien,
serta situasi yang tidak selalu bisa dikendalikan.
Dunia pekerjaan tidak selalu memberikan ruang bagi
seseorang untuk menunjukkan kelemahannya.
Ada target yang harus dicapai, tanggung jawab yang
harus diselesaikan, dan orang-orang yang harus dihadapi.
Seseorang bisa saja sedang memiliki persoalan keluarga
yang sangat berat, tetapi pada pagi harinya tetap harus datang bekerja,
tersenyum, berbicara dengan orang lain, dan menyelesaikan tugasnya.
Kehidupan memang sering seperti itu.
Dunia tidak selalu berhenti hanya karena hati
seseorang sedang berantakan.
Saya menyukai gambaran bahwa Ria tetap berusaha menjalani
pekerjaannya dan mempertahankan dirinya di tengah berbagai persoalan. Ia tidak
selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam keluarganya, tetapi ia masih
memiliki kesempatan untuk menentukan bagaimana dirinya menjalani kehidupan.
Di sini saya melihat bahwa kekuatan seseorang bukan
selalu terletak pada kemampuannya melawan orang lain.
Terkadang kekuatan justru terlihat dari kemampuannya
menjaga diri agar tidak ikut menjadi buruk meskipun pernah diperlakukan dengan
buruk.
Rumah Bukan Sekadar Bangunan
Judul novel ini sebenarnya sangat sederhana, hanya
satu kata: Rumah.
Namun, setelah membaca ceritanya, saya merasa kata
tersebut memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar bangunan dengan
pintu, jendela, kamar tidur, dan ruang keluarga.
Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang merasa
diterima.
Tempat ketika seseorang tidak perlu berpura-pura kuat.
Tempat ketika kesalahan masih bisa dibicarakan, kesedihan bisa disampaikan, dan
perbedaan pendapat tidak selalu berakhir dengan pertengkaran.
Tetapi kenyataannya, tidak semua orang mendapatkan
pengalaman seperti itu.
Ada rumah yang secara fisik lengkap, tetapi
penghuninya tidak pernah benar-benar saling memahami.
Ada keluarga yang tinggal di bawah satu atap, tetapi
tidak memiliki percakapan yang mendalam.
Ada pula anak-anak yang tumbuh dengan membawa kenangan
buruk karena orang dewasa di sekitarnya tidak mampu memberikan lingkungan yang
sehat.
Dari novel ini saya kembali berpikir bahwa menjadi
orang tua bukan hanya tentang menyediakan makanan, pakaian, pendidikan, dan
tempat tinggal.
Ada tanggung jawab lain yang tidak kalah penting,
yaitu menciptakan rasa aman.
Anak-anak mungkin tidak selalu mengingat semua nasihat
orang tuanya. Namun, pengalaman tentang bagaimana mereka diperlakukan di rumah
bisa melekat sangat lama dalam ingatan.
Dan ketika mereka dewasa, pengalaman tersebut mungkin
ikut membentuk cara mereka memandang kehidupan, hubungan, bahkan keluarga yang
kelak mereka bangun sendiri.
Karena itu, rumah seharusnya bukan tempat seseorang
belajar ketakutan.
Rumah seharusnya menjadi tempat seseorang belajar
mencintai.
Memaafkan Tidak Selalu Mudah
Salah satu persoalan paling rumit dalam kehidupan
adalah memaafkan orang yang pernah menyakiti kita.
Kita bisa dengan mudah mengatakan bahwa semua orang harus
saling memaafkan. Tetapi ketika berada dalam posisi seseorang yang pernah
mengalami luka mendalam, persoalannya tentu berbeda.
Memaafkan bukan perkara mengucapkan satu kalimat
kemudian semua kenangan buruk menghilang.
Ada pengalaman yang membutuhkan waktu panjang untuk
diterima.
Ada hubungan yang tidak bisa kembali seperti semula.
Ada pula orang yang mungkin tidak pernah benar-benar
memahami seberapa besar luka yang telah mereka berikan kepada orang lain.
Perjalanan Ria mengajak pembaca melihat bahwa berdamai
dengan masa lalu bukan sesuatu yang sederhana.
Menurut saya, memaafkan juga tidak selalu berarti
membenarkan perbuatan orang yang telah menyakiti kita.
Kita tetap bisa mengakui bahwa sesuatu yang pernah
dilakukan seseorang adalah salah. Kita juga tetap boleh menjaga jarak dari
hubungan yang tidak sehat.
Namun, jangan sampai seluruh kehidupan kita hanya
berputar pada peristiwa masa lalu.
Sebab, jika terus-menerus hidup dalam kemarahan,
bukankah orang yang pernah menyakiti kita masih memiliki tempat yang terlalu
besar dalam kehidupan kita?
Barangkali salah satu bentuk kebebasan adalah ketika
kita tidak lagi membiarkan masa lalu menentukan seluruh kebahagiaan hari ini.
Mengapa Alur Novel Rumah Menarik?
Saya pribadi menikmati cara J.S. Khairen membangun
cerita ini.
Novel bertema keluarga sebenarnya bukan sesuatu yang
baru. Konflik antara anak dan orang tua, persoalan rumah tangga, luka masa
kecil, hingga upaya memaafkan sudah sering menjadi tema dalam karya sastra.
Namun, yang membuat Rumah menarik adalah
perjalanan ceritanya.
Saya tidak merasa sedang membaca sebuah cerita yang
hanya ingin segera membawa tokohnya menuju penyelesaian masalah.
Ada perkembangan karakter, peristiwa, dan pengalaman
yang membuat kita perlahan memahami mengapa seseorang bisa memiliki sikap
tertentu.
Alurnya juga tidak mudah ditebak.
Ketika membaca novel, saya menyukai cerita yang tidak
terlalu cepat memberikan semua jawaban. Ada ruang untuk bertanya, menduga, dan
kemudian menemukan bahwa ternyata ada hal lain yang belum kita pahami.
J.S. Khairen berhasil membuat saya menikmati proses
tersebut.
Selain itu, karakter-karakter yang hadir terasa dekat
dengan kehidupan sehari-hari. Mereka bukan manusia sempurna yang selalu
mengambil keputusan benar.
Mereka memiliki kelemahan, ego, kepentingan, dan
persoalan masing-masing.
Bukankah memang demikian kehidupan?
Tidak ada keluarga yang seluruh anggotanya selalu
benar. Tidak ada manusia yang seluruh tindakannya selalu dapat dibenarkan.
Tetapi justru dari berbagai ketidaksempurnaan itulah
kita bisa belajar memahami manusia.
Setelah Membaca Rumah, Apa yang
Tersisa?
Setelah menyelesaikan novel ini, saya kembali
memikirkan satu hal sederhana.
Kita sering begitu sibuk membangun rumah, tetapi
terkadang lupa membangun hubungan di dalamnya.
Kita mengejar pekerjaan, pendidikan, penghasilan, dan
berbagai hal yang dianggap penting untuk masa depan keluarga. Semua itu memang
diperlukan.
Namun, apakah orang-orang yang tinggal bersama kita
merasa bahagia?
Apakah mereka merasa didengar?
Apakah mereka merasa aman untuk menceritakan kesedihan
dan kesalahannya?
Atau jangan-jangan rumah yang kita bangun justru
menjadi tempat seseorang menyimpan luka yang kelak dibawanya sampai dewasa?
Saya kira pertanyaan tersebut layak direnungkan.
Ada banyak orang yang mampu membeli rumah besar,
tetapi belum tentu mampu menciptakan suasana rumah yang hangat.
Ada pula orang yang hidup dalam rumah sederhana,
tetapi di dalamnya terdapat kasih sayang yang membuat setiap penghuninya merasa
cukup.
Pada akhirnya, rumah bukan hanya tentang ke mana kita
pulang.
Rumah juga tentang siapa yang membuat kita merasa
diterima ketika kembali.
Dan mungkin, bagi sebagian orang, perjalanan
terpanjang dalam hidup bukanlah perjalanan mengelilingi dunia, melainkan
perjalanan menemukan kedamaian di dalam dirinya sendiri.
Kesimpulan: Jangan Sampai Luka
Membuat Kita Menjadi Sama
Apakah saya merekomendasikan novel Rumah karya
J.S. Khairen?
Ya.
Terutama bagi pembaca yang menyukai novel dengan tema
keluarga, konflik psikologis, perjalanan kehidupan, dan hubungan antarmanusia.
Saya menikmati alurnya yang tidak mudah ditebak serta
penggambaran karakter yang terasa dekat dengan kehidupan nyata.
Novel ini juga mengingatkan saya bahwa manusia tidak
selalu bisa memilih bagaimana masa kecilnya berlangsung. Tidak semua orang
mendapatkan keluarga yang ideal. Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang
memberikan rasa aman.
Namun, ketika dewasa, kita memiliki kesempatan untuk
menentukan bagaimana memperlakukan orang lain.
Kita bisa memilih untuk tidak mengulangi kesalahan
yang pernah dilakukan kepada kita.
Kita bisa memilih untuk tidak menjadikan luka sebagai
alasan menyakiti orang lain.
Dan kita bisa belajar membangun rumah yang berbeda
dari rumah yang pernah membuat kita terluka.
Bagi saya, salah satu pesan yang paling berharga dari
perjalanan Ria adalah bahwa seseorang tidak harus menjadi buruk hanya karena
pernah diperlakukan dengan buruk.
Kita boleh mengingat luka, tetapi jangan sampai
seluruh hidup kita menjadi tawanan luka tersebut.
Sebab, pada akhirnya, hidup terlalu singkat jika hanya
digunakan untuk memelihara kebencian.
Jangan sampai orang-orang yang pernah menyakiti kita
berhasil mengubah kita menjadi manusia yang sama seperti mereka.
Mungkin itulah salah satu cara terbaik untuk berdamai
dengan masa lalu.
Dan mungkin pula, di situlah kita mulai menemukan arti
sebuah rumah.

Comments :
0 comments to “ Rumah – J.S. Khairen: Ketika Rumah Menjadi Tempat Menyimpan Luka dan Dendam ”
Post a Comment
Thanks for Your Comment!