Langkah Kaki Kecil
menulislah maka kamu akan hidup abadi
Langkah Kaki Kecil
Kelekatan Guru (Ustad) dengan Siswa dalam Sesi
Jumat Berbagi Rasa
Sudah kami tunggu-tunggu hari dimana kami bisa bertukar rasa satu sama lain. Berani mengutarakan cerita dengan sopan, santun, jelas dan mendengarkan cerita teman yang sedang berlangsung adalah salah satu konsekuensi yang sudah kami buat kontrak bersama terlebih dahulu diawal pertemuan sehingga kami mampu menghormati satu sama lain jika ada yang bercerita, kami dengarkan dan tidak menyela, bahkan kami bisa saling memberi motivasi maupun solusi kepada teman, namun kadang waktunya yang terbatas.
Terkadang berpikiran sebaliknya menjadi titik temu untuk menemukan sebuah solusi. Otak dibuat memikirkan sesuatu yang terasa sangat berat, tapi ketika memasrahkan diri,membagi beban kepada seseorang yang terpercaya, permasalahan tersebut akan terasa ringan bahkan bisa diselesaikan.
Solusi menjadi sebuah pencapaian, agar semua masalah yang membelenggu pemikiran kita menjadi bebas lepas dan hilang, namun jika setiap orang ditanya apakah perlu sebuah masalah itu harus ada disetiap orang, jawabannya pun kemungkinan harus ada karena dengan masalah itu bisa menjadikan diri ini belajar, memotivasi diri sendiri, dan bisa membuka hati kepada yang lain untuk menjadi lebih baik.
Jangan sampai permasalahan tersebut membuat pikiran kita menjadi tertekan dan berat menerima saran dari orang lain bahkan sampai depresi maupun menghilang nyawa dengan cara membunuh diri sendiri. Banyak fenomena jikalau seseorang sedang dilanda sebuah masalah dan hanya dipendam dan menjadi beban pikiran semata dengan melampiaskan kedalam bentuk yang negatif akan tersa merugikan bagi diri sendiri, tubuh tentunya maupun kesehatan mental kita, tak jarang banyak orang masih memecahkan masalahnya dengan cara melupakan sejenak, dengan cara minum hingga teler, obat hingga tak sadarkan diri, maupun mencari kebahagiaan semu dengan cara menyakiti orang lain. Dampak yang akan ada selain kedirinya sendiri, lambat laun lingkungan sekitarpun akan terdampak juga.
Berhati-hatilah dalam menyikapi kehidupan ini, bertindak yang tepat dengan mencai solui atas permasalahan kita serta jangan lupa bersilaturahmi, berbagi cerita, dan tak lupa berdo’a, memasrahkan diri kita kepada Pemilik Alam Semesta.
Budaya” menembak” bagi seorang pria kepada seorang wanita untuk memulai sebuah hubungan khusus (pacar) hanya ada di Indonesia. Entah dari mana asalnya budaya tersebut. Coba diingat-ingat, kapan pertama kali Anda mendengar bahwa bila seorang pria ingin menjadi kekasih seorang wanita, maka ia harus bertanya dan meminta ijin dahulu pada sang wanita. Didalam sebuah buku “Penyejuk Jiwa” “Mutiara Hikmah Dibalik Kisah”, oleh Musa Siregar.
Semoga dengan cerita ini kita mampu memberikan suatu perilaku yang baik untuk bekal di akherat kelak.
Berjudul “AMALAN MEMBUKA PINTU SURGA”, (Siregar, 2005: 133-144) yang saya bagi menjadi dua posting-an biar mudah untuk membaca dan memahaminya, semoga bermanfaat bagi kita semua.
Tidak seperti biasanya, hari itu Ali bin Abi Thalib pulang lebih sore menjelang asar. Fatimah binti Rasulullah menyambut kedatangan suaminya yang sehari suntuk mencari rezeki dengan suka cita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.
Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah. “Maaf sayangku, kali ini aku tidak membawa uang sepeser pun. Fatimah menyahut sambil tersenyum, “Memang yang mengatur rezeki tidak duduk di pasar, bukan? Yang memiliki kuasa itu adalah Allah Ta’ala.”
“Terima kasih,” jawab Ali.
Matanya memberat lantara istrinya begitu tawakal./ padahal persediaan dapur sudah ludes sama sekali. Toh Fatimah tidak menunjukkan sikap kecewa atau sedih. Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan shalat berjamaah.
Sepulang dari sembahyang, di jalan ia dihentikan oleh seorang tua. ”Maaf anak muda, betul engkau Ali anaknya Abu Thalib?”
Ali menjawab heran. ”Ya betul. Ada apa, Tuan?”
Orang tua itu merogoh kantungnya seraya menjawab, ”Dahulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya. Dengan gembira Ali mengambil haknya dari orang itu sebanyak 30 dinar. Tentu saja Fatimah sangat gembira memperoleh rezeki yang tidak di sangka-sangka ketika Ali menceritakan kejadiann itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Ali pun bergegas berangkat ke pasar.
Sebelum masuk ke dalam pasar, ia melihat seorang fakir menadahkan tangan, “Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepada saya, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”
Tanpa pikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu. Pada waktu ia pulang dan Fatimah keheranan melihat suaminya tidak membawa apa-apa, Ali menerangkan peristwa yang baru saja dialaminya. Fatimah, masih dalam senyum, berkata, ”Keputusan kanda adalah yang juga akan saya lakukan seandainya saya mengalaminya. Lebih baik kita, menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya, dan menutup pintu surga buat kita.”
-------o-------
I’tibar [bersambung]
Bila belum siap melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam ...
Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya ...
Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang, kau tak mau merusak kesucian dan penjagaan hatinya..
Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu.. menghindarkan dirimu dari hal-hal yang akan merusak izzah dan iffahmu ..
Karena diammu bukti kesetiaanmu padanya ..
Karena mungkin saja orang yang kau cinta adalah juga orang yang telah ALLAH swt. pilihkan untukmu ...
Ingatkah kalian tentang kisah Fatimah dan ALi ?
Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan ...
Tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah karena dalam diammu tersimpan kekuatan ... kekuatan harapan ...
Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintamu yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata ...
Bukankah Allah tak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap padanya ?
Dan jika memang 'cinta dalam diammu' itu tak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam ...
Jika dia memang bukan milikmu, toh Allah, melalui waktu akan menghapus 'cinta dalam diammu' itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang tepat ...
Biarkan 'cinta dalam diammu' itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu ...
Maaf kepada para teman sekaligus pembaca secara tidak langsung, karena sumbernya saya belum mengetahui tapi ini nyata-nyata bukan tulisan/karangan saya secara pribadi namun hanya copy paste dari sumber yang baik.
Semoga kita dapat mengambil manfaat dengan membaca artikel di atas, mampu menjaga hati dengan sebaik-baiknya penjagaan hati yang sempurna yang di Ridhoi oleh ALLAH SWT.
Nah nie salah satu kekompakan kita (anak-anak Wisma Al-Huda) menyambut syukuran teman yang baru aja di nyatakan lulus oleh sebuah instansi terkenal yang tak lain adalah sebuah instansi pendidikan swasta yang bernama UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA.
Yang di wisuda yang ber-kaos MERAH, salah satu aktifis di organisasi IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), namanya di kalangan kampus sangat terkenal khususnya dari Fakultas Ekonomi, bernama M. Naim Manani,
Kami ber-6 mengadakan TOUR ke salah satu objek wisata alam yang terletak di sebuah desa jauh dari
Dengan bermodalkan perut kosong, kan acara makan-makan “gratisan” dari sang wisudawan ntu, jadi ya ayooo hajar aja,………….
Suasananya tenang dan udaranya-pun sejuk banget. Ada fasilitas buat nyantai2, di temani dengan berbagai ikan yang wahhhh,.. gehde-gehde,............. jangan lupa fasilitas kolam renang juga ada (kolam renang dengan air dari sumber alam).
Oh ya, semoga teman-teman yang lain bisa menyusul, cepat di wisuda, dan bisa makan-makan bersama lagi dalam ”gratisan”, di manapun dan kapanpun yang namanya ”gratisan” itu nikmat,............... !!!!!!
Iseng-iseng cari bacaan, eh tak taunya dapet majalah khusus buat anak “ADZKIA” Edisi 10 maret 2007 (nah, lama juga
Dalam kolom “Mutiara Hadits hal. 7” berjudul “Menangis Yang Berpahala”.
Dari ceritanya yang notabene untuk kalangan anak kecil; simple dan mudah dipahami, tapi intinya euyyyy mantafff banget,………….. silahkan baca di bawah nie,…………. (Monggo kulo aturaken miyos critanipun),………..
“Dua mata yang tak akan di sentuh api neraka, yakni mata yang menangis karena takut kepada Allah, dan mata yang terjaga-jaga di saat jihad fii sabilillah.” (HR Tirmidzi).
Anak yang sering menangis pasti dijuluki cengeng. Itu jika ia menangis karena permintaannya tidak dituruti ayah, atau menangis karena sedikit terluka akibat jatuh. Menangis seperti itu memang cengeng, dan tidak berpahala.
Nah, ternyata ada menangis yang berpahala, dan bisa menghindarkan kita dari neraka, yaitu menangis karena takut kepada Allah. Takut jika Allah akan memasukkan kita ke dalam neraka.
Si anak menjawab, “Saya takut dimasukkan ke dalam neraka.”
Orang tua itu berkata, ”Jangan takut, anak kecil tidak akan masuk neraka!”
Tapi sang anak tetap menangis dan berkata, ”Wahai kakek, tidakkah Anda melihat, seseorang yang ingin memasak dengan kayu bakar, bukankah ranting-ranting kecil dahulu yang dibakar, lalu baru kayu yang besar? Saya takut kalau di masukkan ke neraka lebih dahulu dari yang tua-tua.”
Mendengar alasan si anak, orang tua itupun menangis dan berkata, ”Anak kecil ini lebih takut kepada Allah dari pada diriku.”
Nah, itu ceritanya, bagaimana dengan kita, masak kalah dengan anak kecil itu, yang sudah mampu berpikir jernih akan suatu hari akhir nanti; neraka dan surga dengan perumpamaan sebatang kayu bakar untuk menanak nasi harus rantingnya dulu baru kemudian batangnya yang tua.
Copyright © Rufadi Islah
Template by Blogger Templates | Powered by Blogger