Data Buku
Judul:
Babel: Or the Necessity of Violence
Penulis:
R. F. Kuang
Genre:
Historical Fantasy / Dark Academia / Alternate History
Latar:
Oxford, Inggris, abad ke-19
Tema: Bahasa, penerjemahan, kolonialisme, pendidikan, kekuasaan, identitas, persahabatan, dan perlawanan.
Rating pribadi: ⭐⭐⭐⭐½ / 5
Kalau ditanya apakah saya puas dengan ending-nya?
Iya. Banget.
Dan
setelah perjalanan panjang bersama Robin Swift dan teman-temannya, rasanya
memang agak berat untuk benar-benar meninggalkan Babel.
Akhirnya tamat juga.
Setelah
beberapa minggu menemani Robin Swift, Ramy, Victoire, dan Letty di Oxford,
akhirnya saya menutup halaman terakhir Babel: Or the Necessity of Violence karya
R. F. Kuang.
Dan
kesan saya setelah selesai membaca?
Asyik.
Gelap. Berat, tetapi memuaskan.
Terutama
bagian akhirnya.
Ada
novel yang setelah selesai dibaca membuat kita merasa lega karena ceritanya
berakhir. Ada pula novel yang membuat kita masih memikirkan ceritanya beberapa
hari kemudian.
Bagi
saya, Babel termasuk yang kedua.
Bukan
karena ceritanya sempurna. Ada bagian-bagian yang terasa cukup panjang dan
penuh penjelasan. Tetapi semakin jauh saya membaca, semakin saya merasa bahwa
sebenarnya yang sedang dibangun R. F. Kuang bukan sekadar cerita fantasi
tentang Oxford.
Ia
sedang membicarakan bahasa, pengetahuan, kolonialisme, kekuasaan, identitas,
dan harga yang harus dibayar seseorang ketika akhirnya mengetahui kebenaran
tentang dunia tempat ia hidup.
Oxford yang Indah, tetapi Tidak Sederhana
Pada
awalnya, Oxford dalam novel ini terasa seperti tempat impian.
Bayangkan
seorang anak dari Kanton yang kemudian dibawa ke Inggris, mendapatkan
pendidikan terbaik, belajar bahasa-bahasa kuno, dan akhirnya diterima di
lingkungan akademik Oxford.
Tokoh
utama kita, Robin Swift, seolah mendapatkan kesempatan hidup yang luar biasa.
Ia
belajar bahasa Yunani, Latin, Mandarin, dan berbagai bahasa lainnya. Ia
kemudian masuk ke Babel, institusi penerjemahan yang menjadi pusat kekuatan
intelektual sekaligus teknologi Kerajaan Inggris.
Di
sinilah saya mulai menikmati konsep utama novel ini.
Karena
dalam dunia Babel, bahasa bukan hanya alat komunikasi.
Bahasa
adalah sumber kekuatan.
Ketika Bahasa Menjadi Teknologi
Inilah
salah satu gagasan paling menarik dari novel ini.
R. F.
Kuang menciptakan sistem magis yang berhubungan dengan penerjemahan dan
batangan perak.
Dua
kata dari bahasa yang berbeda dapat memiliki arti yang hampir sama, tetapi tidak
pernah benar-benar identik.
Perbedaan
kecil dalam makna tersebut kemudian dimanfaatkan melalui silver bars untuk
menghasilkan berbagai efek.
Dengan
demikian, penerjemah bukan sekadar orang yang menerjemahkan buku atau
percakapan.
Mereka
adalah orang-orang yang memungkinkan teknologi Kekaisaran Inggris bekerja.
Kereta
api, mesin, konstruksi, dan berbagai kemajuan lainnya bergantung pada pengetahuan
bahasa dan silver working.
Konsep
ini menarik karena membuat saya melihat penerjemahan dari sudut yang berbeda.
Selama
ini kita sering menganggap bahasa hanya sebagai sarana komunikasi.
Tetapi
bagaimana jika bahasa juga merupakan sumber kekuasaan?
Dan
bagaimana jika orang yang menguasai bahasa tertentu akhirnya dapat menguasai
orang lain?
Di
situlah permainan R. F. Kuang menjadi menarik.
Babel Bukan Sekadar Novel tentang Bahasa
Semakin
jauh membaca, semakin jelas bahwa Babel adalah kritik terhadap kolonialisme.
Babel
memperlihatkan bagaimana Inggris mendapatkan kekuatannya bukan hanya melalui
senjata, tetapi juga melalui pengetahuan dan sumber daya dari wilayah-wilayah
yang mereka kuasai.
Para
pelajar seperti Robin, Ramy, dan Victoire dibutuhkan karena mereka memiliki
sesuatu yang tidak dimiliki oleh Inggris secara alami:
bahasa
dan pengetahuan dari dunia yang mereka jajah.
Ironisnya,
mereka diberikan pendidikan tinggi agar dapat membantu mempertahankan sistem
yang pada akhirnya juga menindas bangsa mereka sendiri.
Di
sinilah konflik batin Robin semakin kuat.
Ia
mendapatkan pendidikan.
Ia
mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik.
Ia
mendapatkan tempat di Oxford.
Tetapi
perlahan ia menyadari bahwa semua itu memiliki harga.
Pertanyaannya
kemudian menjadi sangat sederhana tetapi menyakitkan:
Kalau
kenyamanan hidup kita berasal dari sistem yang merugikan orang lain, apakah
kita tetap bisa menikmatinya tanpa merasa bersalah?
Menurut
saya, inilah salah satu pertanyaan terbesar dalam Babel.
Pendidikan dan Kekuasaan
Ada
satu hal yang cukup mengganggu saya setelah membaca novel ini.
Kita
sering menganggap pendidikan sebagai sesuatu yang selalu baik.
Pendidikan
membuat manusia lebih bebas.
Pendidikan
membuka jalan menuju masa depan.
Tetapi
dalam Babel, pendidikan juga dapat digunakan oleh kekuasaan.
Robin
dan teman-temannya belajar sebanyak mungkin.
Mereka
belajar bahasa.
Mereka
membaca buku.
Mereka
memahami sejarah.
Mereka mempelajari
teori penerjemahan.
Tetapi
pada akhirnya pengetahuan mereka juga digunakan oleh sebuah sistem.
Artinya,
orang yang berpendidikan belum tentu berada di luar kekuasaan.
Bahkan
bisa saja justru menjadi bagian penting dari kekuasaan tersebut.
Bagi
saya, bagian ini cukup menarik untuk direnungkan.
Karena
ternyata mengetahui banyak hal tidak otomatis membuat seseorang bebas.
Kadang-kadang
pengetahuan justru membuat kita sadar bahwa kita sedang berada di dalam sebuah
sistem yang sebelumnya tidak kita pahami.
Robin Swift dan Perubahan Seorang Manusia
Perjalanan
Robin adalah bagian yang paling penting dari novel ini.
Pada
awalnya, Robin hanya ingin belajar.
Ia
ingin menjadi penerjemah.
Ia ingin
mendapatkan tempat di Oxford.
Ia
ingin hidup bersama teman-temannya.
Namun
semakin banyak ia tahu, semakin sulit baginya untuk tetap menjadi Robin yang
dulu.
Ia
mulai melihat rasisme.
Ia
melihat ketidakadilan.
Ia
melihat bagaimana pengetahuan dari bangsa lain dieksploitasi.
Ia juga
mulai memahami bahwa dirinya sendiri telah menjadi bagian dari proyek kekuasaan
tersebut.
Robin
akhirnya harus memilih.
Tetap
berada di dalam sistem atau melawannya.
Dan
pilihan itu tidak mudah.
Sebab
sistem yang ingin ia lawan adalah sistem yang selama ini juga memberinya
kehidupan.
Ramy, Victoire, dan Letty
Saya
juga menyukai dinamika empat karakter utama.
Robin,
Ramy, Victoire, dan Letty tidak benar-benar berada pada posisi yang sama.
Mereka
memiliki latar belakang, identitas, dan pengalaman yang berbeda.
Mereka
memang belajar bersama.
Mereka
makan bersama.
Mereka
bercanda.
Mereka
membangun persahabatan.
Tetapi
dunia di sekitar mereka terus mengingatkan bahwa mereka tidak benar-benar
diperlakukan sebagai orang yang setara.
Dan
ketika konflik semakin besar, perbedaan tersebut akhirnya menjadi semakin
jelas.
Bagi
saya, hubungan keempat karakter inilah yang membuat persoalan kolonialisme
terasa lebih manusiawi.
Ini
bukan hanya tentang Inggris melawan negara lain.
Ini
juga tentang persahabatan, kepercayaan, pilihan, dan pengkhianatan.
Bagian Tengah yang Cukup Berat
Kalau
harus jujur, saya tidak merasa semua bagian Babel sama menariknya.
Ada bagian-bagian
yang terasa panjang.
Diskusi
mengenai bahasa, etimologi, sejarah, dan politik terkadang membuat ritme cerita
melambat.
Saya
bisa membayangkan sebagian pembaca mungkin merasa lelah di bagian-bagian
tersebut.
Tetapi
bagi saya, penjelasan itu justru menjadi bagian dari identitas novel.
R. F.
Kuang memang tidak sedang membuat fantasi ringan.
Ia
ingin pembaca memahami bahwa bahasa memiliki sejarah.
Sebuah
kata tidak muncul begitu saja.
Ada
kebudayaan di belakangnya.
Ada
perpindahan manusia.
Ada
konflik.
Ada
penjajahan.
Ada
perubahan makna.
Dan
ketika bahasa berpindah dari satu bangsa ke bangsa lain, sering kali terjadi
sesuatu yang lebih besar daripada sekadar penerjemahan kata.
Ending Babel: Bagian yang Paling Saya Suka
Nah,
ini bagian yang membuat saya merasa puas setelah menyelesaikan novel ini.
Tanpa
perlu mengulang semua detail ending-nya, saya merasa R. F. Kuang berani membawa
ceritanya sampai pada konsekuensi yang logis.
Tidak
ada penyelesaian yang benar-benar nyaman.
Dan
justru itu yang saya suka.
Kalau
novel ini berakhir dengan semua tokohnya mendapatkan kehidupan bahagia setelah
berhasil mengalahkan sistem, rasanya justru akan terlalu mudah.
Babel
tidak memberikan kemenangan seperti itu.
Ada
kehilangan.
Ada
pengorbanan.
Ada
kemarahan.
Ada
keputusasaan.
Tetapi
juga ada sesuatu yang tetap bertahan.
Harapan.
Bagi
saya, bagian akhir novel ini terasa seperti mengatakan bahwa sebuah perjuangan
tidak selalu menghasilkan kemenangan yang sempurna.
Kadang-kadang
seseorang berjuang bukan karena yakin akan menang.
Ia
berjuang karena ada sesuatu yang tidak lagi bisa ia terima.
Dan
menurut saya, itulah yang membuat ending Babel terasa kuat.
Mengapa Babel Berjudul Babel?
Judul Babel
sendiri tentu bukan pilihan yang kebetulan.
Dalam
tradisi Alkitab, Babel berkaitan dengan kisah tentang manusia yang membangun
menara dan kemudian bahasa mereka dibuat berbeda sehingga mereka tidak lagi
saling memahami.
Menariknya,
R. F. Kuang justru membalik gagasan tersebut.
Di
Babel, bahasa yang berbeda bukan sekadar sumber perpecahan.
Bahasa
menjadi sumber kekuatan.
Tetapi
siapa yang menguasai kekuatan tersebut?
Itulah
pertanyaan yang terus muncul sepanjang novel.
Bahasa
seharusnya menjadi jembatan.
Namun
ketika bahasa dikuasai oleh sebuah imperium, jembatan tersebut dapat berubah
menjadi alat untuk menguasai orang lain.
Dan
mungkin di situlah ironi terbesar novel ini.
Bahasa
dapat menyatukan manusia, tetapi bahasa juga dapat digunakan untuk membangun
kekuasaan.
Setelah Tamat, Apa yang Tersisa?
Setelah
menutup Babel, saya tidak merasa sedang membaca novel fantasi biasa.
Saya
justru merasa sedang membaca novel tentang pengetahuan.
Tentang
bagaimana seseorang mendapatkan pendidikan.
Tentang
bagaimana seseorang menemukan identitasnya.
Tentang
bagaimana sebuah negara membangun kekuatan.
Dan
tentang bagaimana orang yang berada di dalam sistem akhirnya menyadari bahwa
sistem tersebut tidak selalu sebaik yang terlihat dari luar.
Babel juga
membuat saya memikirkan kembali sesuatu yang sederhana:
Bahasa
yang kita gunakan setiap hari sebenarnya membawa sejarah yang panjang.
Kita
menggunakan kata-kata tanpa memikirkan dari mana kata itu berasal.
Kita
menerjemahkan tanpa selalu menyadari bahwa tidak semua makna dapat dipindahkan
dengan sempurna dari satu bahasa ke bahasa lain.
Dan
mungkin justru di celah kecil antara dua bahasa itulah sesuatu yang menarik
terjadi.
Ada
sesuatu yang hilang.
Ada
sesuatu yang berubah.
Ada
sesuatu yang baru.
Kesimpulan
Apakah saya merekomendasikan Babel karya R.
F. Kuang?
Ya.
Terutama
bagi pembaca yang menyukai:
dark academia
Oxford
sejarah alternatif
fantasy dengan konsep yang unik
bahasa dan linguistik
kolonialisme
politik dan kekuasaan
cerita tentang persahabatan
novel yang membuat kita berpikir setelah
selesai membaca
Tetapi
saya tidak akan mengatakan bahwa Babel adalah novel yang ringan.
Babel
meminta kesabaran.
Ada
bagian yang panjang.
Ada
banyak pembahasan sejarah dan bahasa.
Namun
kalau kita bertahan sampai akhir, menurut saya hasilnya sepadan.
Dan
setelah selesai membaca, saya justru memahami mengapa novel ini terasa begitu
berbeda.
Pada
akhirnya, Babel bukan cerita tentang bagaimana manusia menemukan kekuatan
melalui bahasa.
Lebih
dalam dari itu, Babel adalah cerita tentang apa yang terjadi ketika manusia
menyadari bahwa bahasa, pengetahuan, dan pendidikan ternyata juga dapat menjadi
alat kekuasaan.
Dan
mungkin pertanyaan yang paling menarik bukan lagi:
“Siapa
yang menang?”
Melainkan:
“Setelah
mengetahui semuanya, kita akan memilih menjadi bagian dari sistem itu atau
melawannya?”
Saya
sendiri menutup novel ini dengan perasaan yang agak aneh.
Sedih,
puas, sekaligus masih ingin memikirkan ceritanya.
Mungkin
itu tanda bahwa sebuah novel telah melakukan sesuatu yang penting:
ia
tidak benar-benar selesai ketika halaman terakhir ditutup.
---

Comments :
0 comments to “ Babel – R. F. Kuang: Ketika Bahasa Menjadi Senjata ”
Post a Comment
Thanks for Your Comment!