Sore: Istri dari Masa Depan karya Suryana Paramita, novel ini tidak serumit Babel yang sebelumnya saya baca. Tidak banyak dunia yang harus dipahami, tidak ada istilah-istilah rumit yang membuat kita berhenti untuk mencari arti.
Ceritanya
sederhana.
Seorang laki-laki bernama Jonathan tiba-tiba didatangi
seorang perempuan bernama Sore, yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan.
Tentu saja Jonathan tidak langsung percaya.
Bagaimana mungkin seorang perempuan tiba-tiba datang dan
mengatakan bahwa dirinya adalah istri kita dari masa depan?
Tetapi Sore mengetahui banyak hal tentang Jonathan.
Dan dari sinilah cerita dimulai.
Sore tidak datang sekadar untuk memberitahu bahwa mereka
akan menikah.
Ia datang dengan sebuah misi.
Mengubah Jonathan.
Jonathan dan Hidup yang Berantakan
Jonathan digambarkan sebagai laki-laki yang kehidupannya
sebenarnya baik-baik saja, tetapi ia memiliki kebiasaan yang tidak baik untuk
dirinya sendiri.
Ia merokok.
Minum.
Kurang memperhatikan kesehatan.
Dan menjalani kehidupan dengan kebiasaan yang seolah
tidak memikirkan hari esok.
Sore datang membawa sebuah kenyataan dari masa depan.
Ia tahu bagaimana kehidupan Jonathan akan berjalan.
Karena itu ia ingin mengubah kebiasaan Jonathan sejak
sekarang.
Secara sederhana, itulah inti ceritanya.
Seorang istri dari masa depan kembali ke masa lalu untuk
memperbaiki kehidupan calon suaminya.
Premisnya memang romantis.
Tetapi menurut saya, pesan yang lebih menarik justru
bukan soal perjalanan waktunya.
Melainkan soal bagaimana seseorang berusaha menjaga orang
yang dicintainya.
Cinta Tidak Selalu Berupa Kata-Kata
Ada satu hal yang terasa cukup kuat dari hubungan
Jonathan dan Sore.
Sore tidak hanya mengatakan bahwa ia mencintai Jonathan.
Ia melakukan sesuatu untuk Jonathan.
Ia berusaha membuat Jonathan hidup lebih sehat.
Ia mengingatkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.
Ia hadir.
Ia menemani.
Ia peduli terhadap sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Dan di situlah saya merasa novel ini sebenarnya berbicara
tentang sesuatu yang sangat sederhana:
Mencintai seseorang berarti juga peduli terhadap
kehidupan orang tersebut.
Bukan hanya peduli apakah dia mencintai kita atau tidak.
Bukan hanya peduli apakah dia selalu berada di samping
kita.
Tetapi juga peduli apakah dia akan baik-baik saja.
Apakah dia sehat?
Apakah dia bahagia?
Apakah kehidupannya berjalan ke arah yang baik?
Kadang-kadang cinta memang tidak berbentuk kalimat
romantis.
Cinta
bisa berupa:
"Sudah makan?"
"Jangan terlalu banyak merokok."
"Tidur dulu."
"Ayo olahraga."
"Hati-hati di jalan."
Kalimat-kalimat yang terdengar biasa.
Tetapi justru hal-hal kecil seperti itulah yang sering
menjadi cara paling nyata seseorang mengatakan:
"Aku peduli kepadamu."
Tetapi Merawat
Bukan Berarti Mengendalikan
Ini bagian yang menurut saya menarik kalau kita melihat
hubungan Jonathan dan Sore dari kehidupan nyata.
Seseorang yang mencintai kita tentu ingin kita menjadi
lebih baik.
Tetapi ada perbedaan antara merawat dan mengendalikan.
Merawat berarti membantu seseorang menemukan kehidupan
yang lebih baik.
Mengendalikan berarti memaksa seseorang menjadi seperti
yang kita inginkan.
Keduanya bisa terlihat mirip dari luar.
Tetapi sebenarnya berbeda.
Hubungan yang sehat bukan hubungan ketika salah satu
pihak terus-menerus memperbaiki pasangannya.
Hubungan yang sehat adalah ketika dua orang saling
membantu bertumbuh.
Mungkin ini salah satu pesan yang saya tangkap dari Sore.
Kita memang boleh mengingatkan orang yang kita cintai.
Tetapi pada akhirnya, perubahan tetap harus datang dari
dirinya sendiri.
Hubungan Tidak Cukup Hanya dengan Cinta
Setelah membaca novel ini, saya merasa cinta ternyata
hanya salah satu bagian dari sebuah hubungan.
Ada hal lain yang tidak kalah penting:
komunikasi, perhatian, kesabaran, kepercayaan, dan
kemauan untuk berubah.
Dua orang bisa saling mencintai tetapi tetap tidak mampu
mempertahankan hubungan.
Sebaliknya, hubungan yang baik membutuhkan dua orang yang
mau terus belajar memahami satu sama lain.
Karena manusia berubah.
Kita berubah setelah menikah.
Pasangan kita juga berubah.
Kebiasaan berubah.
Pekerjaan berubah.
Kondisi ekonomi berubah.
Kesehatan berubah.
Bahkan cara kita melihat dunia pun bisa berubah.
Maka hubungan yang sehat mungkin bukan tentang menemukan
seseorang yang tidak pernah berubah.
Tetapi menemukan seseorang yang bersedia tumbuh bersama
kita ketika perubahan itu datang.
Sore dan Kesempatan Kedua
Konsep perjalanan waktu dalam novel ini sebenarnya
menjadi simbol yang menarik.
Sore datang dari masa depan karena ingin memperbaiki
sesuatu yang sudah terlanjur terjadi.
Kalau dipikir-pikir, manusia sebenarnya sering memiliki
keinginan yang sama.
Kita ingin kembali ke masa lalu.
Memperbaiki ucapan.
Meminta maaf.
Mengubah keputusan.
Menghabiskan lebih banyak waktu dengan orang yang kita
cintai.
Lebih memperhatikan kesehatan.
Lebih sering menemani keluarga.
Tetapi kita tidak memiliki mesin waktu.
Kita hanya memiliki hari ini.
Dan mungkin itulah pesan yang paling saya suka dari
cerita ini.
Kita tidak bisa kembali ke masa lalu.
Tetapi kita masih bisa melakukan sesuatu terhadap masa
depan.
Merawat Hubungan Dimulai dari Hal-Hal Kecil
Setelah membaca Sore, saya justru tidak mendapatkan kesan
bahwa hubungan yang sehat membutuhkan sesuatu yang luar biasa.
Tidak harus romantis setiap hari.
Tidak harus selalu memberikan hadiah.
Tidak harus selalu pergi berdua ke tempat yang indah.
Kadang-kadang hubungan justru dirawat melalui hal-hal
yang sangat sederhana.
Mendengarkan ketika pasangan bercerita.
Tidak meremehkan perasaannya.
Memberi ruang ketika ia membutuhkan waktu sendiri.
Mengingatkan tanpa merendahkan.
Meminta maaf ketika salah.
Tidak membawa masalah kecil menjadi pertengkaran besar.
Dan yang paling penting:
tetap memilih untuk berbicara ketika sebenarnya lebih
mudah untuk diam dan menjauh.
Hubungan yang baik mungkin bukan hubungan tanpa masalah.
Justru mungkin hubungan yang baik adalah hubungan yang
memiliki masalah tetapi dua orang di dalamnya masih mau mencari jalan keluar
bersama.
Sore Itu Sederhana
Kalau dibandingkan dengan novel-novel yang penuh gagasan
besar, Sore: Istri dari Masa Depan memang terasa sederhana.
Tetapi saya justru menyukai kesederhanaan itu.
Karena setelah membaca cerita tentang seorang perempuan
yang datang dari masa depan untuk menyelamatkan kehidupan suaminya, saya
akhirnya tidak terlalu memikirkan soal perjalanan waktunya.
Saya lebih memikirkan satu hal:
Berapa banyak hal kecil yang sebenarnya bisa kita lakukan
hari ini untuk membuat hubungan kita menjadi lebih baik?
Kita tidak perlu menunggu datangnya seseorang dari masa
depan untuk mengingatkan kita.
Tidak perlu menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Tidak perlu menunggu hubungan retak untuk mulai
memperbaikinya.
Kalau memang ada yang perlu diperbaiki, mungkin hari ini
adalah waktu yang paling baik untuk memulainya.
Penutup
Saya menyukai Sore: Istri dari Masa Depan karena novel
ini tidak mencoba menjadi terlalu rumit.
Ia hanya bercerita tentang seorang perempuan yang
mencintai seorang laki-laki dan berusaha menyelamatkan kehidupannya.
Tetapi dari cerita sederhana itu muncul pertanyaan yang
lebih besar:
Apa sebenarnya arti mencintai seseorang?
Apakah hanya tentang ingin selalu bersamanya?
Atau tentang keinginan melihatnya menjadi manusia yang
lebih baik?
Mungkin cinta yang matang bukan lagi sekadar:
"Aku ingin bersamamu."
Tetapi:
"Aku ingin kita sama-sama menjadi lebih baik selama
bersama."
Dan mungkin hubungan yang sehat bukan hubungan yang
selalu bahagia.
Melainkan hubungan di mana dua orang tetap mau saling
menjaga ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Sore datang dari masa depan untuk mengubah Jonathan.
Kita tidak memiliki Sore yang bisa datang dari masa
depan.
Kita hanya memiliki pasangan kita hari ini.
Maka mungkin yang bisa kita lakukan adalah sesuatu yang
jauh lebih sederhana:
merawatnya.
Merawat komunikasi.
Merawat kepercayaan.
Merawat kesehatan.
Merawat waktu bersama.
Dan merawat perasaan yang dulu membuat dua orang memilih
untuk berjalan bersama.
Sebab pada akhirnya, sebuah hubungan mungkin tidak hancur
karena satu masalah besar.
Bisa jadi ia perlahan-lahan rusak karena terlalu banyak
hal kecil yang tidak pernah dirawat.
Begitu juga sebaliknya.
Hubungan yang baik mungkin tumbuh dari banyak hal kecil
yang terus dirawat setiap hari.
Dan setelah menutup Sore: Istri dari Masa Depan, rasanya
pesan itulah yang paling lama tinggal di kepala saya.

Comments :
0 comments to “ Sore: Istri dari Masa Depan — Tentang Cinta, Perubahan, dan Merawat Hubungan ”
Post a Comment
Thanks for Your Comment!