Ada novel yang kita baca untuk mengikuti jalan ceritanya.
Ada pula novel yang membuat kita berhenti beberapa kali,
mengernyitkan dahi, kemudian berkata dalam hati,
“Ini sebenarnya cerita macam apa?”
Tetapi justru karena itulah kita terus membacanya.
Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan bagi saya adalah novel seperti itu.
Aneh.
Liar.
Kadang membuat tidak nyaman.
Kadang membuat tersenyum.
Kadang membuat sedih.
Namun yang paling terasa setelah membacanya adalah satu
hal:
novel ini penuh kehidupan.
Kehidupan yang tidak rapi, tidak selalu masuk akal, penuh
luka, penuh kekerasan, penuh cinta, penuh kehilangan, dan sesekali begitu
absurd sampai-sampai kita tidak tahu harus tertawa atau merasa prihatin.
Dan mungkin justru di situlah kekuatan Eka Kurniawan.
Ia membuat sesuatu yang aneh terasa seperti bagian dari
kehidupan.
Sebuah Cerita
tentang Kehidupan yang Berliku
Cantik Itu Luka berpusat pada keluarga Mawares, terutama
Dewi Ayu dan keturunannya.
Dewi Ayu adalah perempuan yang kehidupannya jauh dari
sederhana.
Ia mengalami berbagai zaman dan berbagai pergolakan
kehidupan.
Dari masa kolonial Belanda, pendudukan Jepang, hingga
masa setelah kemerdekaan, kehidupan Dewi
Ayu dan keluarganya terus berjalan dalam keadaan yang tidak pernah
benar-benar tenang.
Tetapi novel ini bukan sekadar cerita tentang satu
keluarga.
Melalui keluarga Mawares, Eka Kurniawan seperti sedang
menggambarkan perjalanan sebuah masyarakat.
Sejarah masuk ke dalam kehidupan manusia.
Perang masuk ke dalam keluarga.
Kekuasaan masuk ke dalam rumah.
Dan masa lalu terus membawa akibatnya kepada generasi
berikutnya.
Yang menarik, semuanya tidak disampaikan dengan cara yang
lurus.
Cerita bergerak ke sana kemari.
Masa lalu dan masa sekarang saling berkelindan.
Satu peristiwa baru terasa maknanya setelah kita membaca
peristiwa lain.
Seolah-olah penulis sengaja memberikan potongan-potongan
kehidupan kepada pembaca.
Dan kita harus menyusunnya sendiri.
Dewi Ayu dan
Kecantikan yang Menjadi Kutukan
Salah satu hal yang paling menarik dari novel ini tentu
saja adalah sosok Dewi Ayu.
Ia cantik.
Sangat cantik.
Tetapi kecantikan dalam novel ini bukan hadiah yang
selalu membawa kebahagiaan.
Justru sebaliknya.
Kecantikan dapat menjadi sumber masalah.
Menjadi objek keinginan.
Menjadi sumber penderitaan.
Dan akhirnya menjadi sesuatu yang harus dilawan.
Di sinilah judul Cantik Itu Luka terasa begitu kuat.
Kecantikan yang seharusnya menjadi sesuatu yang indah
ternyata bisa menjadi luka.
Seolah-olah Eka Kurniawan ingin mengatakan bahwa sesuatu
yang terlihat indah dari luar belum tentu membawa kehidupan yang indah di
dalamnya.
Bukankah kehidupan juga sering seperti itu?
Kita melihat seseorang yang tampaknya memiliki kehidupan
sempurna.
Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang
terjadi di balik kehidupannya.
Keanehan yang
Menjadi Daya Tarik
Kalau ada satu kata yang sulit dilepaskan dari novel ini,
mungkin kata itu adalah:
aneh.
Tetapi aneh di sini bukan berarti buruk.
Justru keanehan adalah salah satu kekuatan terbesar novel
ini.
Eka Kurniawan berani membawa cerita ke wilayah yang tidak
biasa.
Hantu.
Kematian.
Kekerasan.
Cinta.
Seksualitas.
Mitos.
Sejarah.
Dan berbagai kejadian yang terasa absurd bercampur
menjadi satu.
Kalau ditulis oleh penulis lain, mungkin hasilnya akan
terasa berantakan.
Tetapi di tangan Eka Kurniawan, semuanya seperti memiliki
tempat.
Ada semacam logika sendiri di dalam dunia yang ia bangun.
Dan sebagai pembaca, kita akhirnya menerima saja.
Kita berhenti bertanya,
“Apakah ini mungkin?”
dan mulai bertanya,
“Lalu apa yang akan terjadi berikutnya?”
Bagi saya, itu pengalaman membaca yang menyenangkan.
Pembaca Harus
Merangkai Imajinasinya Sendiri
Salah satu hal yang saya rasakan ketika membaca novel ini
adalah bahwa Eka Kurniawan tidak memberikan semuanya kepada pembaca dalam
bentuk yang sederhana.
Kita harus mengikuti alurnya.
Menghubungkan tokoh.
Mengingat kejadian.
Kembali kepada masa lalu.
Kemudian memahami bagaimana sebuah peristiwa memengaruhi
generasi berikutnya.
Kadang saya merasa seperti sedang menyusun sebuah puzzle
yang sangat besar.
Potongannya tidak langsung terlihat hubungannya.
Tetapi semakin lama dibaca, semakin banyak bagian yang
mulai tersambung.
Dan ketika semuanya mulai terasa memiliki hubungan, ada
kepuasan tersendiri.
Mungkin inilah yang membuat novel ini terasa berbeda.
Penulis memberikan cerita, tetapi pembaca ikut membangun
dunia di dalam kepalanya sendiri.
Luka yang Tidak
Hanya Milik Satu Orang
Judul novel ini menggunakan kata “luka”.
Dan semakin membaca, semakin terasa bahwa luka di dalam
novel ini bukan hanya luka seseorang.
Ada luka keluarga.
Ada luka karena perang.
Ada luka karena penjajahan.
Ada luka karena kemiskinan.
Ada luka karena cinta.
Ada luka karena kehilangan.
Ada pula luka yang diwariskan dari satu generasi kepada
generasi berikutnya.
Yang menarik, luka tersebut tidak selalu terlihat.
Ada luka yang berada di tubuh.
Ada luka yang berada di ingatan.
Ada luka yang tersimpan dalam hubungan antara manusia.
Dan mungkin luka yang paling sulit sembuh adalah luka
yang tidak pernah dibicarakan.
Sejarah yang Masuk
ke Dalam Kehidupan
Saya juga menyukai bagaimana Eka Kurniawan memasukkan
sejarah ke dalam cerita.
Kita tidak membaca sejarah seperti membaca buku pelajaran.
Tidak ada kesan bahwa penulis sedang berdiri di depan
kelas dan menjelaskan:
"Pada tahun sekian terjadi ini..."
Sejarah justru hadir melalui kehidupan manusia.
Perang bukan hanya angka korban.
Perang berarti seseorang kehilangan keluarga.
Penjajahan bukan hanya persoalan politik.
Penjajahan berarti ada manusia yang tubuh dan
kehidupannya dikendalikan oleh orang lain.
Perubahan zaman bukan hanya pergantian pemerintahan.
Ia juga mengubah cara manusia hidup, mencintai, bertahan,
dan memandang masa depan.
Karena itu, sejarah dalam Cantik Itu Luka terasa dekat.
Kita melihat sejarah melalui mata manusia.
Kehidupan yang
Tidak Pernah Sederhana
Mungkin ini kesan terbesar saya setelah membaca novel
ini.
Kehidupan manusia memang tidak pernah sederhana.
Kita sering ingin membuat segala sesuatu menjadi hitam
dan putih.
Siapa yang benar?
Siapa yang salah?
Siapa yang baik?
Siapa yang jahat?
Tetapi kehidupan nyata jarang sesederhana itu.
Orang baik bisa melakukan kesalahan.
Orang yang terlihat buruk mungkin memiliki alasan.
Seseorang bisa menjadi korban pada satu waktu dan menjadi
pelaku pada waktu yang lain.
Cinta bisa berubah menjadi kebencian.
Kebencian bisa lahir dari cinta.
Dan seseorang bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah
kita bayangkan hanya karena keadaan memaksanya berada di sebuah titik tertentu.
Novel ini seperti mengingatkan bahwa manusia adalah
makhluk yang rumit.
Saya Menikmati
Cara Eka Kurniawan Bercerita
Ada sesuatu yang membuat saya terus ingin membaca.
Bukan hanya karena ingin mengetahui akhir cerita.
Tetapi karena ingin mengetahui seberapa jauh imajinasi
penulis akan membawa saya.
Dan ternyata cukup jauh.
Kadang saya merasa sedang membaca sejarah.
Kemudian berubah menjadi cerita keluarga.
Lalu menjadi kisah cinta.
Kemudian muncul sesuatu yang absurd.
Lalu ada horor.
Kemudian kembali lagi ke kehidupan manusia.
Semuanya bercampur.
Anehnya, tidak terasa seperti kumpulan genre yang
dipaksakan.
Semuanya seperti satu dunia.
Dunia Eka Kurniawan.
Dan sebagai pembaca, kita hanya perlu mengikuti arusnya.
Cantik Itu Luka
Semakin saya memikirkan judulnya, semakin saya merasa
judul tersebut sangat tepat.
Cantik itu luka.
Karena sesuatu yang dianggap indah oleh manusia tidak
selalu membawa kebahagiaan.
Kecantikan bisa menjadi berkah.
Tetapi bisa juga menjadi kutukan.
Cinta bisa menjadi kebahagiaan.
Tetapi bisa juga menjadi luka.
Keluarga bisa menjadi tempat pulang.
Tetapi keluarga juga bisa menjadi sumber penderitaan.
Masa lalu bisa menjadi kenangan.
Tetapi masa lalu juga bisa menjadi sesuatu yang terus
menghantui.
Mungkin kehidupan memang seperti itu.
Tidak ada sesuatu yang benar-benar hanya memiliki satu
sisi.
Penutup
Setelah selesai membaca Cantik Itu Luka, saya tidak
merasa baru saja membaca sebuah cerita biasa.
Rasanya seperti baru saja berjalan melewati kehidupan
yang panjang.
Bertemu dengan banyak manusia.
Melihat berbagai macam luka.
Menyaksikan cinta yang tidak selalu indah.
Melihat kekuasaan dan kekerasan.
Melihat bagaimana sejarah memengaruhi kehidupan manusia.
Dan yang paling menarik, semua itu dibungkus dalam
imajinasi yang sangat liar.
Ada bagian yang membuat saya heran.
Ada bagian yang membuat saya tersenyum.
Ada bagian yang membuat saya tidak nyaman.
Ada pula bagian yang membuat saya terdiam sebentar.
Tetapi semuanya membuat saya ingin terus membaca.
Mungkin karena kehidupan memang seperti itu.
Tidak selalu masuk akal.
Tidak selalu adil.
Tidak selalu indah.
Tetapi selalu memiliki cerita.
Dan Eka Kurniawan berhasil membuat cerita yang penuh luka
itu terasa hidup.
Bagi saya, Cantik Itu Luka adalah novel yang menyenangkan
justru karena ia tidak berusaha membuat kehidupan menjadi terlalu indah.
Ia membiarkan kehidupan tetap liar.
Tetap aneh.
Tetap penuh dosa.
Tetap penuh cinta.
Tetap penuh kehilangan.
Dan mungkin justru karena itulah kita bisa mengenali
sesuatu yang sangat manusiawi di dalamnya.
Setelah menutup halaman terakhir, saya hanya bisa
berpikir:
ternyata sebuah kehidupan bisa begitu rumit untuk
diceritakan.
Dan mungkin seorang penulis yang hebat bukanlah penulis
yang mampu membuat kehidupan terlihat sederhana.
Tetapi penulis yang mampu membawa kita masuk ke dalam
kerumitannya, membuat kita tersesat sebentar, lalu perlahan menemukan jalan
pulang dengan membawa sesuatu untuk dipikirkan.
Cantik Itu Luka melakukan itu kepada saya.
Dan untuk sebuah novel, menurut saya, itu sudah lebih
dari cukup.

Comments :
0 comments to “ Cantik Itu Luka — Ketika Kehidupan Begitu Aneh, Luka, dan Indah ”
Post a Comment
Thanks for Your Comment!