Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Wednesday, June 8, 2011

SENI BERPERANG (ART OF WAR) SUN TZU




Sun Tzu (400 –320 SM) diyakini sebagai penulis Art of War (Seni Perang) sebuah karya militer klasik tertua dalam literatur Cina. Art of War diperkenalkan di Jepang sekitar tahun 716 – 735 M, dan seribu tahun kemudian muncul di Eropa, bertepatan saat bangsa-bangsa di benua itu memulai suatu serbuan untuk mendominasi dunia, khususnya di Asia dan Afrika.
Buku yang ditulis sekitar 2500 tahun yang lalu ini demikian terkenalnya, sehingga sekarang masih relevan dibaca dan dijadikan pegangan, diaplikasikan di kehidupan perang dan segala sesuatu yang mengandung 'persaingan/kompetisi'. Tidak hanya di dunia militer, bahkan di dunia politik dan bisnis sekalipun ilmu perang dari Sun Tzu ini masih dipakai hingga saat ini. Kata orang Jepang, “politik itu bisnis, dan bisnis adalah perang."
Berikut ini adalah sebagian isi dari Art of War yang monumental tersebut sebagai pencerahan untuk para politikus dan juga anda yang sekarang sedang “berperang” di bisnis, kantor, organisasi atau di tengah masyarakat. Dan tentunya, Art of War dibaca orang bukan karena di dalamnya terdapat pandangan-pandangan yang mutlak kebenarannya, namun lebih dari itu, karena mereka ingin mengambil "hikmah" setelah membacanya.

Wednesday, March 23, 2011

Stanley Morrison “Times New Roman”



Stanley Morrison adalah seorang yang telah berjasa kepada kita karena berkat karyanya kita dapat menikmati karya dia, walaupun kita tidak tahu sebelumnya atau bahkan kurang memperhatikannya tentang karya dia yang sebenarnya.

Kisah itu bermula selama kurang lebih 30 tahun (1929-1960) Stanley Morrison menjadi konsultan huruf untuk koran The Times di London, Inggris.

Sunday, February 20, 2011

Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA, 1908-1981)


HAMKA (1908-1981), is a call of a famous figure in Indonesia about the movement in the field of religion at that time who actually named "Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah".

He is a scholar, political activist and author of Indonesia. He was born on February 17, 1908 in the village Molek, Review, West Sumatra, Indonesia. His father was Sheikh Abdul Karim bin Haji Amrullah or recognized as a messenger, a pioneer Islah Movement (tajdid) in Minangkabau, upon his return from Mecca in 1906.

Tuesday, February 9, 2010

"The way” Karya Lao Tzu




The way karya lao Tzu mengandung lebih dari satu arti. Setiap orang yang membacanya dapat menangkap pesan yang berbeda di dalamanya. Kita mungkin hanya dapat mengorek permukaan dari kedalaman ajaran Lao Tzu, tetapi kita akan tetap mendapatkan manfaatnya.

Memerintah negara yang besar itu seperti memasak ikan kecil, kamu tidak boleh membaliknya terlalu sering, atau ikan itu akan hancur.

Pemerintah yang terbaik tidak membuat keberadaannya terasa, yang terbaik kedua adalah yang dipuji oleh rakyat, yang berikutnya adalah yang ditakuti oleh rakyat, dan yang berikutnya terburuk adalah yang dibenci oleh rakyat.

Cara yang terbaik untuk memerintah Negara adalah memerintah secara alamiah, sederhana dan berhati-hati.

Pemerintah yang baik tidak membuat banyak kebijakan atau mengeluarkan banyak perintah; tetapi memerintah Negara sedemikian rupa sehingga ketika pekerjaannya selesai, masyarakatnya akan berkata, “segalanya terjadi secara alami.”

Pemerintah yang baik tidak mengganggu rakyat jika tidak perlu, juga tidak ambil bagian dalam berbagai aktivitas yang mengganggu kehidupan rakyat.

Terlalu banyak pajak membuat rakyat kelaparan; terlalu banyak peraturan dan undang-undang membuat tanah menjadi tidak dapat diatur.

Semakin banyak hokum dilanggar, semakin banyak pencuri.

Semakin banyak kemampuan yang dimiliki rakyat, semakin banyak hal hebat yang mereka lakukan, mereka akan semakin tamak.

Orang yang bijaksana tidak mempunyai pendapat yang tetap.

Dia mengganggap keinginan rakyat seperi keingginannya sendiri.

Dia mempunyai orang-orang yang baik, dan juga orang- orang yang jahat, maka semua akan menjadi baik.

Dia mempercayai orang-orang yang setia, dan juga orang-orang yang tidak setia, maka semua orang akan menjadi setia.

Bagi orang bijaksana, tidak ada orang yang tidak mempunyai harapan, karena dia tahu bagaimana mendidik mereka; dan tidak ada hal yang sia-sia, karena dia mengetahui bagaimana menggunakannya.

Ketika Negara besar menempatkan dirinya lebih rendah hati, dia akan memenangkan banyak Negara kecil.

Ketika Negara kecil memposisikan dirinya lebih rendah, dia akan dirangkul oleh Negara besar.

Negara besar seharusnya lebih rendah hati, karena bagi Negara yang rendah hati akan memenangkan hati seluruh dunia.

Jalanku adalah rahasia jagat raya.

Kehebatannya tidak dapat dibandingkan.

Orang hebat menghargainya dan melaksanakannya 

Orang biasa kadang kala memahaminya tetapi sering kali kehilangan.

Orang picik meremehkan dan menlaknya.

Renungan: Hidup kita adalah sebuah perjalanan dari perjuangan yang terus-menerus, tekanan tiada ampun dan perubahan yang tiada habis-habisnya.

Kadang kala, kita seakan-akan tersesat; dan kita mungkin tidak dapat melihat makna keseluruhan karena banyak rintangan.

Kata-kata Lao Tzu menginggatkan kita untuk mengambil satu langkah mundur dan sikap yang lebih berjarak terhadap hidup dan diri kita sendiri.

Kadang kala kurang berarti lebih.

Kadang kala lebih baik dari pada satu langkah maju.

Kadang kala hasil yang terbaik adalah kalah, dan terkadang ada saat melepaskan sesuatu.

Marilah kita berhenti sejenak dari pekerjaan kita sehari-hari untuk menikmati kedamaian batin; mari kita kesampingkan sejenak semua beban pikiran yang mengganggu, untuk mengkaji kembali pandangan dan nilai kita.

Jika kita dapat melihat tujuan kita dalam perspektif dan mempunyai ide yang lebih baik mengenai prioritas kita, kita akan mampu menghadapi tantangan hidup dengan optimis, tenang, dan rasa percaya diri uyang sudah diperbaharui.

Wednesday, January 13, 2010

Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832)


Ternyata ada artikel bagus untuk kumasukkan "di-postinganku" ini, hasil lihat-lihat postingan teman yang ada di facebook (Dztyana Fayzan Saifan), disini saya tak akan menambah atau mengurangi dari redaksi karena cukup bagus dan enak untuk di baca, berjudul "PUJANGGA JERMAN PENGAGUM RASULULLAH BICARA TENTANG ISLAM UANG"

Johann Wolfgang von Goethe (1749-1832) adalah pujangga Jerman, serba bisa dalam berbagai bidang, penemuan dan profesi: hukum, arsitektur, teater, arkeologi, morfologi, teori warna, menteri, mineralogi, geologi, kimia, meteorologi, filsafat, agama, sejarah, matematika, ilmu kemiliteran dan ekonomi, serta sastra. Namun, bagi warga Indonesia yang mayoritasnya Islam, hal yang menarik dari Goethe adalah mengenai pemikirannya tentang Islam dan uang. Goethe menyatakan bahwa penggantian uang emas dengan uang kertas adalah hasil rekayasa setan.

Pada usia 24 tahun (1773), Goethe mengungkapkan kekagumannya kepada Nabi Muhammad saw dan memuji ajaran Islam yang indah dan dinamis. Kekaguman tersebut ia tuangkan dalam syairnya Mahomet Gesang. Salah satu baitnya berbunyi: "Juga kalian, mari/ Dan kini lebih ajaib dia membesar-meluas/Seluruh ras menyanjung pangeran ini."

Dalam suratnya kepada anak tunggalnya August, 17 Januari 1814, Goethe mengatakan "Beberapa agama telah mengecoh kita sampai kemudian datang al-Quran ke perpustakaan kita". Pada Februari 1816, ia juga menulis, "Puisi ini tidak menolak kebenaran bahwa diri ini adalah seorang Muslim". Tentang Nabi Muhammad saw, ia juga menulis "Dia seorang Rasul dan bukan penyair, dan oleh karenanya Al-Quran ini hukum Tuhan. Bukan buku karya manusia yang dibuat sekadar bahan pendidikan atau hiburan".

Keyakinan Goethe terhadap kebenaran ajaran Islam, ia tuangkan dalam kumpulan syairnya West-ostliche Divan. Judul tersebut juga ditulis dalam huruf dan bahasa Arab Al-Diwan Al-Syarqiyyu li Al-Muallifi Al-Gharbiyyi. Sajak pertamanya dalam buku ini ia beri judul Hegire yang berasal dari kata Hijrah. Menurut Katharina Mommsen, syair ini Goethe tulis pada 24 Desember 1814, pada malam Natal, saat pemeluk agama Kristen sedang merayakan kelahiran Nabi Isa as.

Di dalam bait-bait syair tersebut, ia mengatakan: "Utara, Barat dan Selatan Porakporanda/Mahkota-mahkota hancur terpencar, Kerajaan bergetar/Apakah suara terompet itu memebahanakan hari pengadilan Akhir?/Dengarlah suara Perintah pada penyair: Selamatkan dirimu, dan pergilah ke Timur serta dalam kemurnian Timur nikmatilah perlindungan Yang Mulia."

Goethe juga mengatakan "dan kebenaran itu pasti bersinar/Apa yang diakui oleh Muhammad/Hanya dengan pengertian satu Tuhan/Dia menguasai segalanya di dunia ini". Kekagumannya terhadap al-Quran, ia ungkapkan dengan kata-kata, "Apakah Al-Quran itu abadi?/Saya tidak meragukannya/Inilah buku dari buku-buku/Saya meyakini kitab suci Muslim itu". Sedangkan keyakinannya tentang kebenaran ajaran Islam, ia berkata "Sungguh bodoh, dalam setiap hal/ orang memuji pendapatnya sendiri/Apabila Islam berarti berserah diri kepada Tuhan/dalam Islamlah kita hidup dan mati".

Pemikiran Goethe tentang Uang
Goethe hidup dalam masa transisi pemberlakuan uang kertas yang menggantikan uang emas dan uang perak. Karena itu, ia membuat 46 buku yang dilatarbelakangi sikap skeptisnya terhadap pemberlakuan uang kertas tersebut. Hal ini sebagaimana ia tuangkan dalam buku Faust II. Dalam buku tersebut dikisahkan seorang ilmuwan kimia bernama Faust yang berusaha membuat emas dari logam biasa demi meraih pengetahuan tertinggi dan memuaskan kesenangan manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut ia membuat perjanjian dengan iblis, Mephistopheles. Keduanya kemudian bertemu seorang Kaisar yang kehabisan dana untuk menggaji tentara dan pelayan. Mephistopheles menawarinya jalan keluar dengan mencetak kertas bertandatangan Kaisar dan diedarkan kepada masyarakat.

Goethe telah melihat ekonomi uang modern yang didasarkan pada uang kertas merupakan kelanjutan cara-cara kimiawi dengan cara lain. Meskipun menulis dalam dekade awal abad ke-19, ia sudah meramalkan banyak pencapaian industrial pada abad berikutnya. Jauh sebelum Amerika Serikat (AS) diperhitungkan dalam pentas sejarah dunia, ia juga sudah memperkirakan bahwa AS akan membangun terusan untuk menghubungkan Samudera Atlantik dan Pasipik tersebut. Dengan demikian, Goethe sudah melihat sebelum waktunya capaian besar dunia industri yang akan didanai dengan sistem moneter uang kertas.

Pernyataan Goethe bahwa uang kertas adalah ciptaan setan memiliki korelasi dengan pemikiran Imam al-Ghazali yang menyatakan bahwa hikmah penciptaan Dinar dan Dirham tidak akan ditemukan di dalam hati yang berisi sampah hawa nafsu dan tempat permainan setan. Dengan demikian, Islam yang dipahami oleh Imam Ghazali dan Goethe membuahkan pemahaman yang sama, yaitu Dinar dan Dirham sebagai mata uang yang diciptakan oleh Allah, sedangkan uang kertas ciptaan setan.

Pemahaman ini juga diperjelas oleh Jack Weatherford yang menyatakan bahwa Al-Quran melarang riba lebih jelas daripada Injil, karena secara spesifik Al-Quran melarang penjualan "sesuatu yang sudah ada (nyata) dengan sesuatu yang tidak ada (gaib)". Pertukaran yang nyata dengan yang gaib ini seperti pertukaran uang kertas (yang semula sebagai kuitansi tentang sejumlah uang emas atau uang perak) dengan ayam, kambing, hutan, dan sebagainya.
(Ainul Wafa * wakalanusantara)



Translate

Thanks for your donate

MY POPULAR POSTS

 

THE BEST BLOGGER

Mari Berbagi Kata dan Laporkan jika ada Error link